Showing posts with label BOYAN MASUK KORAN. Show all posts
Showing posts with label BOYAN MASUK KORAN. Show all posts

Friday, 8 February 2008

TAKUT MALAYSIA PATENKAN KESENIAN HADRAH BAWEAN

JAWA POS
Rabu, 12 Sept 2007,
Perjuangan Warga Boyan
Melestarikan Tradisi di Negeri Jiran
Para perantau asal Bawean sudah beberapa generasi bermukim di Malaysia. Bahkan, sebagian besar di antara mereka telah melepas status sebagai warga negara Indonesia. Namun, dengan berbagai cara, para perantau itu tetap berusaha mempertahankan tradisi nenek moyang mereka.

HAFID A. RAHMAN, Kuala Lumpur

KOMUNITAS orang Bawean di Malaysia biasa disebut dengan orang Boyan. Mereka tersebar di hampir seluruh negeri (negara bagian). Warga pulau kecil yang berlokasi di Jawa Timur itu tergolong sebagai perantau awal di negeri jiran. Bahkan, sebelum negara Malaysia berdiri. Ada yang baru dua generasi, tapi ada juga sudah empat generasi. Nasib mereka pun beragam. Ada yang jadi abdi negara di kantor pemerintahan Malaysia sampai pekerja kasar.
Saat ini, sedikitnya ada 120 ribu orang Boyan di Malaysia. Mereka tergabung dalam Persatuan Bawean Malaysia (PBM). "Sebenarnya, anggota PBM 40 ribu orang saja. Sebab, yang jadi anggota yang sudah jadi warga negara Malaysia. Sementara, 80 ribu masih anggota istimewa karena masih berstatus warga negara Indonesia (WNI)," kata Supiyati Mat Har, ibu enam anak asal Bawean yang sudah sejak usia 4 tahun menetap di Malaysia.
Begitu banyaknya warga Bawean di Malaysia, mereka sampai membentukperkampungan-perkampungan. Misalnya, di kawasan Gombak, Kuala Lumpur, yang memang dikenal sebagai kawasan Boyan.
Baju boleh Malaysia, tapi adat Bawean tak boleh musnah. Itulah semboyan komunitas Boyan. Mereka berpegang teguh pada warisan nenek moyangnya. Mulai kesenian, cara berkomunikasi, dan simbol-simbol kehidupan lain.
"Adat-istiadat itu penting karena ini warisan nenek moyang. Makanya, orang tua selalu meneruskan kepada anak-anaknya meski anak-anaknya sudah jadi warga negara Malaysia," tutur Yati, panggilan Supiyati.Misalnya, seni hadrah atau yang biasa disebut kompangan oleh penduduk Malaysia. Seni menabuh terbang, sambil menyanyikan lagu-lagu Islami itu, tetap menjadi bagian penting warga Bawean.
Dalam setiap acara perkawinan atau hajatan lain, komunitas Bawean seakan wajib menampilkan kesenian tersebut. Karena itu, di Malaysia kelompok hadrah mencapai 47 grup. "Itu yang tercatat karena sempat dilombakandi sini. Tapi, bisa jadi jumlahnya lebih dari itu," kata Tabrani bin KH Ahmad Rawi, tokoh masyarakat Bawean di Malaysia.
Pria 58 tahun yang bekerja sebagai kontraktor itu mengepalai sebuah kelompok hadrah yang diberi nama Miftahul Ulum. Kelompok tersebut memiliki 150 orang anggota. "Mayoritas anggota kami sudah warga negara sini. Kelompok kami berdiri sejak 1980-an," tutur Tabrani.
Seni hadrah tidak sekadar menjaga warisan nenek moyang. Dari kesenian itu, kelompok-kelompok hadrah mampu mendapatkan keuntungan cukup banyak. Bahkan, sebagian kelompok menyumbangkan hasil manggung untuk membangun tanah kelahirannya, Bawean.
Contohnya, kelompok Miftahul Ulum. Hampir setiap bulan mereka menyisakan hasil manggung untuk mendirikan dan membiayai sebuah madrasah."Alhamdulillah, kami bisa bantu tsanawiyah di Desa Sukaoneng, Tambak, Bawean. Kami kirim Rp 4 juta untuk membantu guru-guru di sekolah itu," ucap bapak tiga anak tersebut.
Selain itu, Miftahul Ulum mampu mendirikan sebuah masjid di kampung halaman Tabrani. "Selama dua tahun, kami mengumpulkan RM 80 ribu (sekitar Rp 200 juta) untuk membangun masjid," ungkapnya.
Dia tidak bisa memastikan berapa banyak pundi-pundi ringgit dikumpulkan Miftahul Ulum setiap bulannya. Yang pasti, dalam seminggu, kelompoknya bisa manggung dua kali. Sekali tampil, kelompok hadrah paling tidak mendapatkan bayaran RM 400 (sekitar Rp 1 juta).
"Tergantung banyak sedikitnya personel yang kami bawa. Kalau lebih banyak, harganya lebih tinggi," tandasnya.
Tabrani yang tinggal di Malaysia sejak 1975 menuturkan, orang tua harus sedikit memaksa anak-anaknya untuk belajar tentang warisan Bawean. Sebab, mereka menganggap budaya asal tanah kelahirannya tersebut masih lebih baik daripada budaya anak muda zaman sekarang.
"Mengajak anak muda untuk belajar budaya Bawean memang sedikit susah. Selain mereka sudah warga negara Malaysia, anak-anak juga sudah terpengaruhi budaya luar. "Tapi, kami tetap berusaha mengajarkan kepada anak-anak. Sebab, semacam kesenian hadrah kan anak-anak dikenalkan cerita-cerita nabi dan keteladanan lainnya," tutur Tabrani yang tinggal di Kampung Cangkat, Gombak.
Karena itu, untuk membuat anak-anak muda Bawean tertarik, banyak kelompok hadrah yang memodifikasi lagu-lagu dangdut atau pop yang cukup terkenal.
Misalnya, lagu Putri Panggung yang dipopulerkan oleh pendangdut Uut Permatasari.
"Kami mengganti lirik lagu itu dengan bacaan-bacaan cerita keteladanan nabi dalam buku Barzanji," kata Syarifudin bin Zairasy, pimpinan kelompok hadrah Raudattul Muttaqien.Untuk membentuk grup, komunitas Bawean masih bergantung pada Indonesia. Mereka masih menggunakan peralatan musik dari negara asalnya.
"Suara terbang dan peralatan lain di Malaysia beda dengan di Indonesia. Suaranya alat-alat dari Indonesia lebih bagus. Makanya, kami harus impor dari Indonesia," tutur Syarifudin lantas tersenyum.
Hadrah bisa dibilang naik daun di Malaysia. Kelompok komunitas Bawean tidak hanya tampil di kampung-kampung untuk hajatan warga. Kini, mereka juga langganan diudang oleh pemerintah Malaysia.
"Kami sering tampil di semacam kantor-kantor dinas. Hingga main di gedung DPR (Dewan Perwakilan Rakyat)-nya Malaysia. Setiap tahun, pemerintah Malaysia juga mengadakan festival hadrah tingkat nasional," ucapnya.Bahkan, sekarang, banyak penduduk asli Malaysia yang membuat grup hadrah. Meski cara bermainnya sedikit beda dengan hadrah dari Bawean, Syarifudin tetap khawatir. "Bagaimana kalau kesenian ini akan dipatenkan oleh Malaysia," ujar pria 39 tahun itu.
Selain kesenian, komunitas Bawean di Malaysia juga masih kukuh mempertahankan bahasa daerahnya (bahasa Madura dialek Bawean). Orang tua juga seakan memaksa anak-anaknya yang sudah menjadi warga negara Malaysia tetap menggunakan bahasa ibu mereka.
Kata dia, komunitas Bawean di mana saja seperti itu. Tak hanya di Malaysia. Di Singapura komunitas Bawean juga berkomunikasi dengan bahasa Bawean. "Bahkan, ada yang tidak bisa bahasa Indonesia. Sebab, sejak lahir, anak-anak mereka hanya menggunakan bahasa Bawean dan bahasa Inggris,"’ tutur Yati.
Yang menarik, dari segi kebangsaan, anak-anak dari pasangan orang tua Bawean itu sudah merasa bagian yang tidak terpisahkan dari Malaysia. Mereka lebih cinta negara kelahirannya daripada negara orang tuanya."Itu kelihatan kalau sedang ada pertandingan sepak bola atau bulu tangkis. Saat nonton bareng, anak-anak selalu membela tim Malaysia, sedangkan orang tua dukung Indonesia. Sehingga, kadang-kadang bergaduh," kata Tabrani, lantas tertawa lepas. (*)

Thursday, 7 February 2008

UTUSAN MALAYSIA

RENCANA
Orang Bawean merantau ubah nasib
Daripada ZULKEFLI HAMZAH
PULAU Bawean yang terletak 156 kilometer sebelah utara daerah Gresik, Jawa Timur di kalangan rakyat Indonesia popular dengan gelaran Pulau Puteri dan pulau ramai janda kerana lelakinya merantau ke Malaysia mahupun Singapura.
Gelaran Pulau Puteri ada benarnya. Tetapi cerita pulau janda dan perceraian hanya dibuat melalui surat atas alasan jarak, disanggah oleh penduduk tempatan yang menyatakan Bawean merupakan kelompok masyarakat yang taat terhadap ajaran agama Islam.
Di mana-mana pelosok pulau berkeluasan 194.11 kilometer persegi dan berpenduduk 59,500 orang ini, sebahagian besar lelaki merantau sehingga pulau ini didominasi golongan wanita dan anak-anak.
``Kalaupun ada lelaki, mereka ialah golongan tua atau penduduk Bawean keturunan Jawa yang bekerja sebagai nelayan dan menanam padi. Perantau Bawean di Malaysia jumlahnya lebih ramai berbanding penduduk Bawean sendiri,'' kata Arifin Abdullah, penduduk Bawean yang kini tinggal di Gresik.
Setelah berjaya di perantauan, orang Bawean membawa bersama keluarga mereka meninggalkan pulau ini. Di daerah perantauan, mereka menubuhkan persatuan dan bersama-sama membangun perkampungan yang biasanya di panggil Kampung Boyan seperti banyak terdapat di Malaysia.
Tetapi tradisi orang Bawean, jarang yang melupakan asal usul mereka. Walaupun sebahagiannya telah mendapat taraf penduduk tetap dan berkahwin dengan penduduk tempatan tetapi tidak melupakan Bawean.
Bawean bagi mereka, bukanlah tempat untuk hidup tetapi untuk lahir dan mati. Anak-anak berusia remaja akan dihantar di negara-negara jiran untuk menjadi pekerja bangunan, restoran, kilang atau ladang kelapa sawit.
Uniknya sangat jarang yang memilih bekerja sebagai pembantu rumah. Jumlah penduduk Bawean yang berada di negara asing dikatakan lebih 400,000 orang. Seorang penduduk, Asnawi, 52, yang menghabiskan masa 23 tahun merantau ke negara orang berkata, orang Bawean hanya menjadikan kampung mereka tempat persinggahan atau percutian bukan tempat tinggal.
``Mereka akan pulang sekurang-kurangnya sekali atau dua kali setahun. Kalau Hari Raya Aidilfitri, anda akan melihat suasana Pulau Bawean jauh berbeza kerana meriah dengan para perantau,'' katanya yang kini membuka tempat penginapan, restoran dan warung telefon (wartel).
Asnawi menimba pengalaman menjadi kelasi sebelum bekerja sebagai buruh binaan di Malaysia. Dia berhenti menjadi kelasi pada 1982 dan bekerja di Malaysia. Sebut sahaja mana kawasan Malaysia, semuanya telah dikunjunginya.
Lima tahun lalu, dia memutuskan menetap di Bawean untuk menjaga ibunya yang sudah tua dan membesarkan dua anaknya, masing-masing berumur enam dan lima tahun dari perkahwinan keduanya.
Dua anak Asnawi dari perkahwinan pertama kini berada di Singapura dan seorang lagi memilih menjadi rakyat Malaysia. Perjalanan hidup Asnawi merupakan contoh kisah hidup masyarakat Bawean. Mengumpulkan harta di Malaysia atau negara asing lainnya dan melaburkan untuk membina rumah, membeli tanah atau aset-aset lainnya di Bawean.
Bertambah kaya
``Rumah-rumah batu yang tersergam indah ini ialah hasil dari Malaysia. Kalau mengharapkan ekonomi Bawean, tidak mungkin mereka dapat membina rumah sebesar ini,'' kata Arifin dan Asnawi yang menemani Mingguan Malaysia meninjau perkampungan Bawean.
Bagi masyarakat Bawean, ekonomi di pulau itu sangat bergantung kepada Malaysia, bukannya Indonesia.
``Tidak ada Malaysia, tidak adalah Bawean. Semasa krisis ekonomi teruk melanda Indonesia pada tahun 1997, penduduk Bawean bertambah kaya kerana kadar pertukaran ringgit dengan rupiah semasa itu sangat tinggi,'' kata Asnawi.
Orang Bawean yang merantau hampir semuanya berjaya, jika dinilai dari harta benda yang mereka miliki. Mereka yang dulunya bekerja hanya untuk makan kini mampu membeli harta benda yang sekali gus telah meningkatkan taraf hidup masing-masing.
Orang Bawean kini lebih kaya daripada para pedagang dari Palembang, kelompok masyarakat minoriti di pulau ini yang dipanggil dengan sebutan orang Kemas oleh masyarakat setempat.
``Dahulu mereka dihormati sebagai pedagang kaya di Bawean. Tetapi sekarang tidak lagi. Kini yang lebih kaya ialah masyarakat Bawean yang sebahagian besar bekerja di Malaysia dan Singapura,'' jelasnya.
Di kebanyakan kampung pula, penduduk menggelarnya Kampung Malaysia kerana majoriti penduduknya bekerja di negara itu. Malah di beberapa batang jalan di kampung-kampung yang dibina secara gotong-royong hasil pendapatan dari Malaysia diberi nama Mahathir Mohamad.
``Anda boleh melihat jalan kampung biasanya lebih cantik dari jalan utama yang dibina oleh pemerintah Indonesia. Kalau tidak ada Malaysia, tidak mungkin masjid, sekolah, jalan dan rumah atau prasarana awam lainnya seperti yang dapat dilihat sekarang,'' kata Arifin.
Seperti menjadi kemestian bagi masyarakat Bawean untuk membina rumah batu bagi membuktikan kejayaan mereka walaupun di Malaysia mereka hanya tinggal di rumah-rumah setinggan atau rumah kongsi.
Fenomena ini menyebabkan banyak rumah mewah yang tersergam dibiarkan kosong kerana penghuninya berada di Malaysia. Ungkapan kerja sehari di Bawean tidak cukup untuk makan sehari tetapi di Malaysia cukup bagi seminggu bahkan sebulan merupakan alasan utama mereka merantau ke Malaysia. Pekerjaan utama di Bawean ialah pertanian dan nelayan.
Menurut cerita penduduk, bagi orang Bawean menyimpan mata wang ringgit atau dolar seperti menyimpan emas kerana nilainya tidak mudah turun berbanding rupiah.
Menjadi tradisi setiap kali pulang, para perantau selain membawa wang tunai akan mengangkut pelbagai peralatan rumah tangga dan kenderaan yang dibeli dari Gresik dan Surabaya untuk digunakan oleh ahli keluarga yang masih tinggal di pulau ini.
``Jika tidak ada Malaysia, Bawean tidak akan menjadi seperti sekarang. Saya boleh katakan 70 peratus ekonomi Bawean diatur dari Malaysia,'' kata Buang Guntur, 47, orang pertama membuka pasar mini di Bawean pada tahun 2000.
Buang yang mengaut keuntungan berniaga pakaian dan barang kemas di Malaysia serta menjadi pengawal (perkhidmatan mengirim wang) merupakan antara contoh masyarakat Bawean yang berjaya. Kini dia menumpukan usaha perniagaan pasar mini dan kontraktor.
Berkat usahanya itu yang bermodalkan hasil dari Malaysia, dia mampu hidup senang dan menyekolahkan tiga anaknya di institusi pengajian tinggi di Indonesia Berada di Bawean seperti berada di Malaysia. Selain lagu-lagu Siti Nurhaliza, hampir semua penduduk pulau ini mempunyai kaitan dengan Malaysia. Jika tidak bekerja di Malaysia, pasti ada saudara-mara mereka merantau di negara berkenaan.
Mereka seronok bercerita tentang Kampung Pandan, Ampang, Jalan Klang Lama, Cheras dan Gombak yang merupakan antara penempatan utama masyarakat Bawean di Malaysia. Setiap kali bertemu orang Bawean, pertanyaan pertama ialah di Malaysia tinggal di mana.
``Masyarakat Bawean lebih mahir bercerita selok-belok Kuala Lumpur berbanding Surabaya (ibu kota Jawa Timur) apatah lagi Jakarta. Kami semua bersyukur atas rezeki yang kami peroleh dari Malaysia,'' ujar Asnawi.
Orang-orang Bawean dikatakan merantau ke Malaysia dan Singapura sejak tahun 1830, lama sebelum penghantaran secara rasmi tenaga kerja Indonesia ke Malaysia. Cuma sejak beberapa tahun kebelakangan ini, tidak ramai yang sering pulang kerana takut menghadapi kesukaran untuk memasuki semula Malaysia.

20/03/2005

UTUSAN MALAYSIA

RENCANA
TKI bawa kemewahan ke kampung halaman
Oleh: Amir Sarifudin (Wartawan Utusan)
Kebanjiran rakyat asing terutama warganegara Indonesia ke negara ini sejak sekian lama, sama ada secara sah atau haram, banyak membawa perubahan kepada kehidupan mereka terutama dari segi taraf hidup.
Hakikatnya, kemasukan mereka itu bertujuan mencari pekerjaan disebabkan di tempat sendiri tiada sebarang pekerjaan disediakan dan berlaku kemiskinan hidup.
Kemasukan tenaga kerja Indonesia (TKI) ke Malaysia disebabkan pembangunan dan kemajuan pesat di negara ini yang seterusnya membuka banyak peluang pekerjaan seperti dalam sektor perladangan, pembinaan, perkilangan dan banyak lagi.
Keadaan itu menyebabkan Malaysia umpama `gula' yang dihurung oleh semut-semut'. Semut-semut di sini umpama rakyat Indonesia, India, Bangladesh, Thailand, Filipina, Vietnam, Myanmar dan rakyat dari beberapa negara lagi.
Tidak hairanlah pekerja asing yang masuk ke Malaysia secara sah direkodkan melebihi satu juta orang.
Disebabkan terlalu banyak peluang pekerjaan untuk direbut, adalah dianggarkan mereka yang masuk secara haram pula mencecah jumlah yang sama.
Dalam pada itu, mungkin ramai yang hanya mengetahui kehadiran rakyat asing terutama dari Indonesia telah membawa perubahan besar kepada Malaysia dari segi pembangunan.
Memang diakui perkara ini terutama apabila dapat dilihat banyak bangunan pencakar langit berdiri megah seperti Menara Berkembar Petronas dan Lapangan Terbang Antarabangsa Kuala Lumpur (KLIA). Ia adalah hasil kerja buruh rakyat Indonesia.
Bagaimanapun, di sebalik pembangunan yang menyediakan ratusan ribu pekerjaan, malah jutaan juga, ia sebenarnya telah membawa perubahan pada taraf hidup para pekerja asing itu sendiri.
Perubahan taraf hidup itu memang tidak dapat dilihat di Malaysia, sebaliknya ia berlaku di Indonesia apabila TKI berkenaan pulang atau menghantar hasil mereka ke negara asal. Dengan kata lain, nasib rakyat asing yang datang ke negara ini telah banyak berubah disebabkan peluang-peluang pekerjaan yang disediakan.
Keadaan ini berlaku apabila mereka yang bekerja di Malaysia itu menghantar pulang hasil-hasil diperoleh ke kampung halaman untuk dinikmati oleh ahli keluarga dan sanak-saudara.
Secara langsung, keadaan ini membantu mengurang serta menyelesaikan masalah dihadapi oleh negara-negara berkenaan.
Oleh itu, penghijrahan rakyat asing ke Malaysia sebenarnya memberi kesempatan untuk mereka membantu negara sendiri. Adalah dianggarkan bahawa setiap TKI yang bekerja di negara ini menghantar pulang minimum RM100 setiap bulan kepada keluarga mereka.
Jika satu juta TKI yang bekerja secara sah berbuat demikian, ini bermakna lebih RM1.2 bilion hasil diperoleh dari Malaysia telah dihantar ke Indonesia dalam masa setahun.
Jika satu juta lagi TKI berada di negara ini secara haram, bermakna jumlah itu adalah dua kali ganda.
Jumlah ini amat besar dan ia merupakan pengorbanan Malaysia dalam memberi pekerjaan dan membantu rakyat negara jiran.
Seorang TKI, Mawardi Mustapa, 40, yang masih bekerja di ladang kelapa sawit Felda Hilir 5, Kuantan, Pahang, mengakui dia dapat menghantar kira-kira RM2,000 setiap tiga bulan.
Jelasnya, jumlah wang itu mampu menampung isteri dan tujuh anaknya selama tiga hingga enam bulan.
``Saya juga dapat membina rumah batu. Jika dulu rumah kami dibuat dari buluh.
``Saya juga dapat beli dua hektar tanah dan motosikal,'' katanya ketika ditemui Barat Kokok Majidi, 60 kilometer dari Mataram, Nusa Tenggara Barat, Indonesia.
Penjelasan Mawardi itu bermakna jumlah sebenar hasil dibawa pulang oleh TKI melebihi RM1.2 bilion.
Keadaan ini terbukti benar jika kita meninjau pembangunan dan kemajuan di kebanyakan tempat di Indonesia. Antaranya termasuklah Pulau Bawean dan Mataram.
Tinjauan Utusan Malaysia di Pulau Bawean seluas 194 kilometer persegi mendapati rata-rata penduduknya mengakui bahawa rumah batu, jalan raya dan masjid di situ adalah hasil yang diperoleh dari Malaysia. Malah, penduduk mengakui setiap mereka mempunyai ahli keluarga yang masih bekerja di Malaysia atau setidak-tidaknya pernah bekerja di sana.
``Ini semua hasil dari Malaysia. Rumah batu, masjid dan tanah-tanah yang dibeli penduduk adalah wang hasil diperoleh bekerja di Malaysia,'' kata guru Sekolah Dasar Negeri, Jamari Abdullah, 57.
Sesuatu yang menarik, ada beberapa rumah batu milik penduduk itu ditinggalkan disebabkan penghuninya masih bekerja di Malaysia.
Kemewahan diperoleh oleh penduduk Pulau Bawean yang sering berulang-alik ke negara ini telah membawa kepada masyarakatnya mewujudkan komuniti Boyan di Malaysia. Ini memang diketahui umum.
Begitu juga tinjauan di beberapa tempat di Mataram, seperti Desa Jelatang Gegerung, Barat Kokok Majidi dan Desa Gunung Raja, Lombok Timur.
Rata-rata penduduk di situ mengakui peluang pekerjaan di Malaysia telah mengubah nasib serta kehidupan mereka.
Ketua Kampung Barat Kokok Majidi, Muhamad Amin Ahmad Shukor, 70, berkata, wang diperoleh daripada ratusan penduduk kampung itu yang bekerja di Malaysia telah membawa pembangunan drastik.
``Dulu hanya jalan tanah untuk pejalan kaki tetapi kini kita dapat bina jalan tanah mereka yang boleh dilalui kereta atau van.
``Dulu rumah penduduk hanya buluh tetapi kini sudah batu. Masjid pun sudah berubah,'' katanya.
Banyak lagi pengakuan penduduk Indonesia yang boleh dicatatkan mengenai perubahan yang dialami mereka setelah bekerja di Malaysia.
Ini termasuklah kemahiran daripada hasil kerja diperolehi hingga ada yang berjaya membuka kedai runcit, pasar mini, mengerjakan kebun sendiri, menjadi pemandu van dan banyak lagi.
Perubahan pada TKI itu telah membawa perubahan besar pada kehidupan penduduk Indonesia yang menjadi jiran akrab Malaysia.
Dengan kata lain, kemajuan, pembangunan dan kekayaan dimiliki oleh Malaysia selama ini turut dinikmati bersama oleh rakyat Indonesia.
Walaupun keadaan itu tidak dapat dilihat secara mata kasar di Malaysia tetapi hakikatnya ia adalah sesuatu yang benar apabila kita pergi meninjau di Indonesia.
02/04/2005

Takut Malaysia Patenkan Kesenian Hadrah Bawean

Utama:
12-09-2007

Perjuangan Warga Boyan Melestarikan Tradisi di Negeri Jiran Para perantau asal Bawean sudah beberapa generasi bermukim di Malaysia. Bahkan, sebagian besar di antara mereka telah melepas status sebagai warga negara Indonesia. Namun, dengan berbagai cara, para perantau itu tetap berusaha mempertahankan tradisi nenek moyang mereka. KOMUNITAS orang Bawean di Malaysia biasa disebut dengan orang Boyan. Mereka tersebar di hampir seluruh negeri (negara bagian). Warga pulau kecil yang berlokasi di Jawa Timur itu tergolong sebagai perantau awal di negeri jiran. Bahkan, sebelum negara Malaysia berdiri. Ada yang baru dua generasi, tapi ada juga sudah empat generasi. Nasib mereka pun beragam. Ada yang jadi abdi negara di kantor pemerintahan Malaysia sampai pekerja kasar.
Saat ini, sedikitnya ada 120 ribu orang Boyan di Malaysia. Mereka tergabung dalam Persatuan Bawean Malaysia (PBM). ’’Sebenarnya, anggota PBM 40 ribu orang saja. Sebab, yang jadi anggota yang sudah jadi warga negara Malaysia. Sementara, 80 ribu masih anggota istimewa karena masih berstatus warga negara Indonesia (WNI),’’ kata Supiyati Mat Har, ibu enam anak asal Bawean yang sudah sejak usia 4 tahun menetap di Malaysia.

Begitu banyaknya warga Bawean di Malaysia, mereka sampai membentuk perkampungan-perkampungan. Misalnya, di kawasan Gombak, Kuala Lumpur, yang memang dikenal sebagai kawasan Boyan. Baju boleh Malaysia, tapi adat Bawean tak boleh musnah. Itulah semboyan komunitas Boyan. Mereka berpegang teguh pada warisan nenek moyangnya. Mulai kesenian, cara berkomunikasi, dan simbol-simbol kehidupan lain. ’’Adat-istiadat itu penting karena ini warisan nenek moyang. Makanya, orang tua selalu meneruskan kepada anak-anaknya meski anak-anaknya sudah jadi warga negara Malaysia,’’ tutur Yati, panggilan Supiyati.
Misalnya, seni hadrah atau yang biasa disebut kompangan oleh penduduk Malaysia. Seni menabuh terbang, sambil menyanyikan lagu-lagu Islami itu, tetap menjadi bagian penting warga Bawean. Dalam setiap acara perkawinan atau hajatan lain, komunitas Bawean seakan wajib menampilkan kesenian tersebut. Karena itu, di Malaysia kelompok hadrah mencapai 47 grup. ’’Itu yang tercatat karena sempat dilombakan di sini. Tapi, bisa jadi jumlahnya lebih dari itu,’’ kata Tabrani bin KH Ahmad Rawi, tokoh masyarakat Bawean di Malaysia.Pria 58 tahun yang bekerja sebagai kontraktor itu mengepalai sebuah kelompok hadrah yang diberi nama Miftahul Ulum. Kelompok tersebut memiliki 150 orang anggota. ’’Mayoritas anggota kami sudah warga negara sini. Kelompok kami berdiri sejak 1980-an,’’ tutur Tabrani.
Seni hadrah tidak sekadar menjaga warisan nenek moyang. Dari kesenian itu, kelompok-kelompok hadrah mampu mendapatkan keuntungan cukup banyak. Bahkan, sebagian kelompok menyumbangkan hasil manggung untuk membangun tanah kelahirannya, Bawean. Contohnya, kelompok Miftahul Ulum. Hampir setiap bulan mereka menyisakan hasil manggung untuk mendirikan dan membiayai sebuah madrasah. ’’Alhamdulillah, kami bisa bantu tsanawiyah di Desa Sukaoneng, Tambak, Bawean. Kami kirim Rp 4 juta untuk membantu guru-guru di sekolah itu,’’ ucap bapak tiga anak tersebut.
Selain itu, Miftahul Ulum mampu mendirikan sebuah masjid di kampung halaman Tabrani. ’’Selama dua tahun, kami mengumpulkan RM 80 ribu (sekitar Rp 200 juta) untuk membangun masjid,’’ ungkapnya. Dia tidak bisa memastikan berapa banyak pundi-pundi ringgit dikumpulkan Miftahul Ulum setiap bulannya. Yang pasti, dalam seminggu, kelompoknya bisa manggung dua kali. Sekali tampil, kelompok hadrah paling tidak mendapatkan bayaran RM 400 (sekitar Rp 1 juta). ’’Tergantung banyak sedikitnya personel yang kami bawa. Kalau lebih banyak, harganya lebih tinggi,’’ tandasnya.
Tabrani yang tinggal di Malaysia sejak 1975 menuturkan, orang tua harus sedikit memaksa anak-anaknya untuk belajar tentang warisan Bawean. Sebab, mereka menganggap budaya asal tanah kelahirannya tersebut masih lebih baik daripada budaya anak muda zaman sekarang. ”Mengajak anak muda untuk belajar budaya Bawean memang sedikit susah. Selain mereka sudah warga negara Malaysia, anak-anak juga sudah terpengaruhi budaya luar. ”Tapi, kami tetap berusaha mengajarkan kepada anak-anak. Sebab, semacam kesenian hadrah kan anak-anak dikenalkan cerita-cerita nabi dan keteladanan lainnya,’’ tutur Tabrani yang tinggal di Kampung Cangkat, Gombak.
Karena itu, untuk membuat anak-anak muda Bawean tertarik, banyak kelompok hadrah yang memodifikasi lagu-lagu dangdut atau pop yang cukup terkenal. Misalnya, lagu Putri Panggung yang dipopulerkan oleh pendangdut Uut Permatasari. ’’Kami mengganti lirik lagu itu dengan bacaan-bacaan cerita keteladanan nabi dalam buku Barzanji,’’ kata Syarifudin bin Zairasy, pimpinan kelompok hadrah Raudattul Muttaqien.Untuk membentuk grup, komunitas Bawean masih bergantung pada Indonesia. Mereka masih menggunakan peralatan musik dari negara asalnya. ’’Suara terbang dan peralatan lain di Malaysia beda dengan di Indonesia. Suaranya alat-alat dari Indonesia lebih bagus. Makanya, kami harus impor dari Indonesia,’’ tutur Syarifudin lantas tersenyum.
Hadrah bisa dibilang naik daun di Malaysia. Kelompok komunitas Bawean tidak hanya tampil di kampung-kampung untuk hajatan warga. Kini, mereka juga langganan diundang pemerintah Malaysia. ’’Kami sering tampil di semacam kantor-kantor dinas. Hingga main di gedung DPR (Dewan Perwakilan Rakyat)-nya Malaysia. Setiap tahun, pemerintah Malaysia juga mengadakan festival hadrah tingkat nasional,’’ ucapnya.Bahkan, sekarang, banyak penduduk asli Malaysia yang membuat grup hadrah. Meski cara bermainnya sedikit beda dengan hadrah dari Bawean, Syarifudin tetap khawatir. “Bagaimana kalau kesenian ini akan dipatenkan oleh Malaysia,’’ ujar pria 39 tahun itu. Selain kesenian, komunitas Bawean di Malaysia juga masih kukuh mempertahankan bahasa daerahnya (bahasa Madura dialek Bawean). Orang tua juga seakan memaksa anak-anaknya yang sudah menjadi warga negara Malaysia tetap menggunakan bahasa ibu mereka.
Kata dia, komunitas Bawean di mana saja seperti itu. Tak hanya di Malaysia. Di Singapura komunitas Bawean juga berkomunikasi dengan bahasa Bawean. ”Bahkan, ada yang tidak bisa bahasa Indonesia. Sebab, sejak lahir, anak-anak mereka hanya menggunakan bahasa Bawean dan bahasa Inggris,’’’ tutur Yati. Yang menarik, dari segi kebangsaan, anak-anak dari pasangan orang tua Bawean itu sudah merasa bagian yang tidak terpisahkan dari Malaysia. Mereka lebih cinta negara kelahirannya daripada negara orang tuanya.’
’Itu kelihatan kalau sedang ada pertandingan sepak bola atau bulu tangkis. Saat nonton bareng, anak-anak selalu membela tim Malaysia, sedangkan orang tua dukung Indonesia. Sehingga, kadang-kadang bergaduh,’’ kata Tabrani, lantas tertawa lepas.(*)

Wednesday, 6 February 2008

JAWA POS

Selasa, 31 Juli 2007,
Melihat Keunikan Musyawarah Cabang
DPC PKB Perwakilan Malaysia
Mirip Reuni Sekolah, Semua Peserta Punya Hak PilihDewan Pengurus Cabang (DPC) PKB perwakilan Malaysia Sabtu lalu (28/7) menggelar Musyawarah Cabang (Muscab) yang kedua. Seperti apa situasi hajatan politik di negeri Jiran itu ?
HAFID ABDURAHMAN, Kuala Lumpur

HOTEL Adamson di kawasan Chow Kit, Kuala Lumpur, dipenuhi imigran asal Indonesia. Mereka berasal dari perwakilan berbagai wilayah di tanah air. Mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Jawa, Madura, NTB (Nusa Tenggara Barat) hingga Flores. Mereka datang untuk mengikuti Muscab DPC PKB Malaysia.
"Seperti periode sebelumnya, muscab menjadi ajang reuni komunitas orang Indonesia di Malaysia," kata Saiful Aiman, salah satu tokoh PKB Perwakilan Malaysia. Acara itu juga dihadiri tokoh-tokoh lintas partai. Mulai Partai Golkar, Demokrat, hingga PDIP. "Meski kami berbeda partai, kekeluargaan kami tetap lekat. Sebab, kami sama-sama mencari rezeki di negeri orang," jelas pria yang bekerja sebagai penerjemah di Mahkamah Tinggi (Pengadilan Negeri) Kuala Lumpur itu.
Saiful mengatakan, meski berbeda partai, warga Indonesia di Malaysia hampir tidak pernah berkonflik. "Buat apa bertengkar karena partai. Justru, kami sering tukar informasi. Kader beda partai juga banyak yang berada dalam sebuah lembaga untuk advokasi TKI (Tenaga Kerja Indonesia)," papar pria asal Bawean, Gresik itu.
DPC PKB Malaysia berada dalam naungan DPW (Dewan Pengurus Wilayah) DKI Jakarta. Selain Malaysia, DPW PKB DKI Jakarta juga membawahi cabang lain di luar negeri seperti Mesir, Arab Saudi, dan Syria. "Informasinya, sebentar lagi akan dibentuk cabang di London, Inggris," tutur pria 45 tahun itu.
Saat ini, PKB Malaysia mengklaim memiliki konstituen lebih dari 15 ribu orang. Dalam Pemilu 2004 lalu, PKB mendapatkan dukungan 13.000 suara. "Saat pemilu lalu, ada banyak kader kami yang tidak bisa ikut menyumbang suara karena tidak memiliki paspor. Meski begitu, di Kuala Lumpur, perolehan PKB menjadi yang terbanyak. Untuk level Malaysia, berada di nomor tiga," sahut aktivis PKB Malaysia lainnya, Maghrodji Maghfur.
Maghfur menjelaskan, struktur organisasi PKB Malaysia berbeda dengan PKB di tanah air. Tak ada anak cabang. Apalagi, pengurus ranting. Karena itu, sistem pemilihan dalam Muscab berbeda dengan mekanisme di Indonesia yang melibatkan anak cabang dan ranting.
Di Malaysia, pemilihan dilakukan oleh seluruh kader yang hadir dalam Muscab. "Tapi, pada intinya, siapa yang boleh memilih, tergantung pembahasan dalam tatib (tata tertib). Kebetulan, Muscab kali ini, disepakati jika pemilih adalah kader yang hadir. Sehingga suaranya banyak sekali," tutur Maghfur.
Kendati begitu, Sekretaris DPW PKB DKI Jakarta yang hadir dalam Muscab Zainal Arifin Na’im mengatakan bahwa model pemilihan itu tidak melanggar AD/ART partai. Zainal justru angkat topi terhadap kiprah DPC PKB Malaysia. Sebab, mereka tetap bersemangat melakukan regenerasi dan konsolidasi di tengah kesederhanaan. "Yang bikin bangga adalah orang-orang yang punya hak suara. Mereka berasal dari berbagai elemen. Mulai tokoh masyarakat, buruh kasar, perwakilan pekerja, hingga WNI (Warga Negara Indonesia) yang sukses berbisnis di Malaysia," paparnya.
Karena semua peserta berhak memilih dan dipilih, calon yang diajukan berjumlah belasan. Namun, setelah diminta kesediannya, sebagian besar calon mengundurkan diri. Hanya empat kader yang berebut kursi Ketua Dewan Tanfidz.
Dalam pemilihan Sabtu malam itu, Maghroji Maghfur akhirnya berhasil terpilih sebagai Ketua Dewan Tanfidz. Dia mengalahkan tiga pesaingnya dengan angka telak. Dari 97 suara, pria asal Sidoarjo itu mendulang perolehan 65 suara. Dengan demikian, kemenangan Maghroji tersebut adalah kali kedua dalam sejarah terbentuknya DPC PKB Malaysia. Sebab, periode sebelumnya (2002 - 2007), dia juga menjabat ketua dewan tanfidz. Di kursi Ketua Dewan Syura, Sahrowardi Jazuli terpilih sebagai pemenang. Jika Maghfur menjabat untuk kali kedua, jabatan Sahrowardi tersebut adalah untuk kali pertama. (*)

Tuesday, 5 February 2008

PONTIANAK POST

Rabu, 12 September 2007
Takut Malaysia Patenkan Kesenian Hadrah Bawean
Perjuangan Warga Boyan Melestarikan Tradisi di Negeri Jiran
Kuala Lumpur,- Para perantau asal Bawean sudah beberapa generasi bermukim di Malaysia. Bahkan, sebagian besar di antara mereka telah melepas status sebagai warga negara Indonesia. Namun, dengan berbagai cara, para perantau itu tetap berusaha mempertahankan tradisi nenek moyang mereka.

Catatan HAFID A. RAHMAN, Kuala Lumpur

KOMUNITAS orang Bawean di Malaysia biasa disebut dengan orang Boyan. Mereka tersebar di hampir seluruh negeri (negara bagian). Warga pulau kecil yang berlokasi di Jawa Timur itu tergolong sebagai perantau awal di negeri jiran. Bahkan, sebelum negara Malaysia berdiri. Ada yang baru dua generasi, tapi ada juga sudah empat generasi. Nasib mereka pun beragam. Ada yang jadi abdi negara di kantor pemerintahan Malaysia sampai pekerja kasar.
Saat ini, sedikitnya ada 120 ribu orang Boyan di Malaysia. Mereka tergabung dalam Persatuan Bawean Malaysia (PBM). ’’Sebenarnya, anggota PBM 40 ribu orang saja. Sebab, yang jadi anggota yang sudah jadi warga negara Malaysia. Sementara, 80 ribu masih anggota istimewa karena masih berstatus warga negara Indonesia (WNI),’’ kata Supiyati Mat Har, ibu enam anak asal Bawean yang sudah sejak usia 4 tahun menetap di Malaysia.
Begitu banyaknya warga Bawean di Malaysia, mereka sampai membentuk perkampungan-perkampungan. Misalnya, di kawasan Gombak, Kuala Lumpur, yang memang dikenal sebagai kawasan Boyan.
Baju boleh Malaysia, tapi adat Bawean tak boleh musnah. Itulah semboyan komunitas Boyan. Mereka berpegang teguh pada warisan nenek moyangnya. Mulai kesenian, cara berkomunikasi, dan simbol-simbol kehidupan lain.
’’Adat-istiadat itu penting karena ini warisan nenek moyang. Makanya, orang tua selalu meneruskan kepada anak-anaknya meski anak-anaknya sudah jadi warga negara Malaysia,’’ tutur Yati, panggilan Supiyati.
Misalnya, seni hadrah atau yang biasa disebut kompangan oleh penduduk Malaysia. Seni menabuh terbang, sambil menyanyikan lagu-lagu Islami itu, tetap menjadi bagian penting warga Bawean.
Dalam setiap acara perkawinan atau hajatan lain, komunitas Bawean seakan wajib menampilkan kesenian tersebut. Karena itu, di Malaysia kelompok hadrah mencapai 47 grup. ’’Itu yang tercatat karena sempat dilombakan di sini.
Tapi, bisa jadi jumlahnya lebih dari itu,’’ kata Tabrani bin KH Ahmad Rawi, tokoh masyarakat Bawean di Malaysia. Pria 58 tahun yang bekerja sebagai kontraktor itu mengepalai sebuah kelompok hadrah yang diberi nama Miftahul Ulum. Kelompok tersebut memiliki 150 orang anggota. ’’Mayoritas anggota kami sudah warga negara sini. Kelompok kami berdiri sejak 1980-an,’’ tutur Tabrani.
Seni hadrah tidak sekadar menjaga warisan nenek moyang. Dari kesenian itu, kelompok-kelompok hadrah mampu mendapatkan keuntungan cukup banyak. Bahkan, sebagian kelompok menyumbangkan hasil manggung untuk membangun tanah kelahirannya, Bawean.
Contohnya, kelompok Miftahul Ulum. Hampir setiap bulan mereka menyisakan hasil manggung untuk mendirikan dan membiayai sebuah madrasah.
’’Alhamdulillah, kami bisa bantu tsanawiyah di Desa Sukaoneng, Tambak, Bawean. Kami kirim Rp 4 juta untuk membantu guru-guru di sekolah itu,’’ ucap bapak tiga anak tersebut.
Selain itu, Miftahul Ulum mampu mendirikan sebuah masjid di kampung halaman Tabrani. ’’Selama dua tahun, kami mengumpulkan RM 80 ribu (sekitar Rp 200 juta) untuk membangun masjid,’’ ungkapnya.
Dia tidak bisa memastikan berapa banyak pundi-pundi ringgit dikumpulkan Miftahul Ulum setiap bulannya. Yang pasti, dalam seminggu, kelompoknya bisa manggung dua kali. Sekali tampil, kelompok hadrah paling tidak mendapatkan bayaran RM 400 (sekitar Rp 1 juta).
’’Tergantung banyak sedikitnya personel yang kami bawa. Kalau lebih banyak, harganya lebih tinggi,’’ tandasnya.
Tabrani yang tinggal di Malaysia sejak 1975 menuturkan, orang tua harus sedikit memaksa anak-anaknya untuk belajar tentang warisan Bawean. Sebab, mereka menganggap budaya asal tanah kelahirannya tersebut masih lebih baik daripada budaya anak muda zaman sekarang.
”Mengajak anak muda untuk belajar budaya Bawean memang sedikit susah. Selain mereka sudah warga negara Malaysia, anak-anak juga sudah terpengaruhi budaya luar. ”Tapi, kami tetap berusaha mengajarkan kepada anak-anak. Sebab, semacam kesenian hadrah kan anak-anak dikenalkan cerita-cerita nabi dan keteladanan lainnya,’’ tutur Tabrani yang tinggal di Kampung Cangkat, Gombak.
Karena itu, untuk membuat anak-anak muda Bawean tertarik, banyak kelompok hadrah yang memodifikasi lagu-lagu dangdut atau pop yang cukup terkenal.
Misalnya, lagu Putri Panggung yang dipopulerkan oleh pendangdut Uut Permatasari.
’’Kami mengganti lirik lagu itu dengan bacaan-bacaan cerita keteladanan nabi dalam buku Barzanji,’’ kata Syarifudin bin Zairasy, pimpinan kelompok hadrah Raudattul Muttaqien.
Untuk membentuk grup, komunitas Bawean masih bergantung pada Indonesia. Mereka masih menggunakan peralatan musik dari negara asalnya.
’’Suara terbang dan peralatan lain di Malaysia beda dengan di Indonesia. Suaranya alat-alat dari Indonesia lebih bagus. Makanya, kami harus impor dari Indonesia,’’ tutur Syarifudin lantas tersenyum.
Hadrah bisa dibilang naik daun di Malaysia. Kelompok komunitas Bawean tidak hanya tampil di kampung-kampung untuk hajatan warga. Kini, mereka juga langganan diudang oleh pemerintah Malaysia.
’’Kami sering tampil di semacam kantor-kantor dinas. Hingga main di gedung DPR (Dewan Perwakilan Rakyat)-nya Malaysia. Setiap tahun, pemerintah Malaysia juga mengadakan festival hadrah tingkat nasional,’’ ucapnya.
Bahkan, sekarang, banyak penduduk asli Malaysia yang membuat grup hadrah. Meski cara bermainnya sedikit beda dengan hadrah dari Bawean, Syarifudin tetap khawatir. “Bagaimana kalau kesenian ini akan dipatenkan oleh Malaysia,’’ ujar pria 39 tahun itu.**