Showing posts with label BAWEAN MENURUT MEREKA. Show all posts
Showing posts with label BAWEAN MENURUT MEREKA. Show all posts

Thursday, 29 May 2008

PESONA PULAU BAWEAN

Media Bawean, 30 Mei 2008
Oleh : Okilukito
Sumber : http://okilukito.wordpress.com/
Alternatif berwisata perlu digali dan dipersiapkan lebih seksama sehingga memungkinkan para wisatawan memilih tujuan wisata di Jawa Timur tidak sebagai tempat singgah, namun juga berwisata di wilayah tersebut. Salah satu potensi wisata yang belum dikembangkan secara optimal adalah wisata bahari di Pulau Bawean.

Lokasinya diantara P. Jawa dan P. Kalimantan mempunyai topografi berbukit dengan tanah subur serta memiliki pantai yang jernih dan indah. Modal ini memungkinkan untuk mengembangkan keindahan pantai dan laut yang dimiliki menjadi suatu kawasan wisata bahari dengan nilai jual yang tinggi. Pantainya layak dikemas untuk sunbathing, surviying, diving, snorkling, fishing atau fin swimming.

Rencana Pemprov Jawa Timur menjadikan Pulau Bawean sebagai daerah tujuan wisata memang tidak berlebihan. Berbagai obyek wisata di darat maupun di laut layak ditawarkan kepada wisatawan asing maupun local. Fasilitas hotel pun sudah tersedia, sedikitnya ada 4 hotel kelas melati yang lokasinya tidak jauh dari pelabuhan Sangkapura. Demikian pula Bank Jatim sudah membuka cabangnya di Kecamatan Sangkapura dan Tambak sejak tahun 2001 dengan fasilitas online, sehingga memudahkan wisatawan yang berkunjung.
Salah satu kendalanya adalah transportasi. Dari Pelabuhan Umum Gresik saat ini hanya dilayani satu kapal cepat, Bahari Ekspress yang melayani trip ini seminggu dua kali. Kapal cepat itu cukup representative walaupun kurang nyaman karena juga mengangkut barang berjejal di dalam kabin. Jarak tempuh Gresik – Bawean yang berjarak kurang lebih 90 mil laut itu hanya dalam waktu 3, 5 jam.
Untuk memudahkan pengunjung yang akan ke Bawean, saat ini tengah dibangun Lapangan Terbang perintis di Kecamatan Tambak. Tepatnya di desa Tanjung Ori yang masih pada tahap pengerasan landasan. Lokasi Lapter cukup strategis, diatas ketinggian bukit menjorok diatas Pantai Wisata Labuhan. Di Kecamatan Sangkapura juga sudah dibangun satu pelabuhan laut baru oleh Dinas Perhubungan Jatim untuk memudahkan akses dari laut. Sedikitnya terdapat 13 obyek wisata bahari yang mengeliingi pulau Bawean.
Mayoritas kondisi alamnya masih belum tersentuh pembangunan alias perawan. Sebagian pantainya berpasir putih, gelombang Laut Jawa yang tidak terlalu besar dapat dimanfaatkan bagi mereka yang senang menyelam (snorkling) bisa menikmati keindahan terumbu karang di pantai sebelah timur seperti perairan di Pulau Cina dan sekitar Pantai Ria. Pemandangan bawah laut di sebelah Barat juga dapat ditemui di perairan Taman Laut Noko .
Luas wilayah pulau Bawean 197,62 km2, terdiri dari Kecamatan Sangkapura meliputi 17 desa dan kecamatan Tambak 13 desa. Potensi lokasi yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat untuk wisata berjumlah 22 lokasi, 21 wisata alam dan 1 wisata budaya/ziarah.
Adapun obyek wisata tersebut antara lain, Air Panas Kebun Daya, Air panas Taubat, pantai Terosan, Pulau Selayar, Pulau Noko, Pulau Gili, Pulau Noko Gili, Air Terjun Laccar, Air Terjun Patar Selamat, Kuburan Panjang, Air Terjun Pudakit Barat, Tanjung Goang, Pantai Ria Gili Barat, Pantai Pulau Cina, Pantai Pasir Putih dan Hutan lindung, Air “Terjun Padang Jambu, Pantai Labuhan, Pantai Mayangkara, Air Panas Kepuh Teluk, Danau Kastoba dan Makam Waliyah Siti Zaenab.
Menurut hasil kajian yang pernah dilakukan, peringkat potensi obyek wisata bahari di Pulau Bawean adalah sebagai berikut : Peringkat I : Pantai Tinggen, Pantai Pasir Putih , Peringkat II : Pantai Tanjung Geen, Pantai Gili Barat, Pantai Terosan, Taman Laut Noko, Pantai Labuhan, Pantai Mayangkara. Peringkat III : Pantai Ria Pantai Pulau Cina, Taman Laut Noko Gili.

Infrastruktur Perlu dibenahi

Selama empat hari tim Bawean Dive Expedition 2008 pada akhir bulan Mei lalu melakukan monitoring terumbu karang, mangrove dan inventarisasi obyek wisata bahari di Bawean. Ekspedisi kecil ini melakukan diving di tiga lokasi yaitu di perairang Pulau Cina, perairang pasir putih dan Pantai Ria. Penyelaman dilakukan Adi Pasaribu (PSDK), Tohir (Primus) dan Priyono (peneliti terumbu karang Unhas).
Di lokasi tersebut tutupan terumbu karang masih baik, rata-rata 70 persen. Ada beberapa titik yang rusak akibat racun sianida yang biasanya dilakukan oleh pencari udang lobster mutiara. Di sekitar Pulau Cina, Tohir berhasil mengabadikan ikan Napoleoan, salah satu spesies yang dilindungi. Tim menyewa perahu nelayan setempat dan dipandegani oleh rekan-rekan dari PPI Bawean, Hadi Suryanto, Prapto dan Idham. Tim sempat singgah di salah satu desa pantai untuk istirahat dan santap siang bersama.
Di hari kedua, tim melakukan monitoring rehabilitasi mangrove di desa Tanjung Ori dan desa Soko Oneng di Kematan Tambak serta di desa Lebak, Kecamatan Sangkapura. Dari hasil pantauan, mayoritas mangrove yang ditanam tahun 2007 lalu dan didanai APBN, tumbuh dengan baik dan mencapai ketinggian lebih dari 50 sentimeter. Hanya saja tim tidak dapat mengamati tanaman yang berada di lokasi hutan bakau milik H. Arfai di desa Soko Oneng karena jalan setapak ke lokasi tersebut digenangi air laut pasang.
Keesokan harinya menjelang matahari terbit, tim dengan mengendarai sepeda motor inventaris milik DPK menyusuri pantai barat dan timur Bawean. Sayangnya keindahan fenomena alam berpantai di 13 lokasi yang dikunjungi, terganggu dengan infrastruktur yang buruk, Adi Pasaribu yang dibonceng Tohir sempat terjatuh di jalan desa. Hampir 80 akses jalan lingkar Barat-Timur rusak dan akses ke obyek wisata tidak terawat. Waktu yang ditempuh sekitar 12 jam mengelilingi pulau penghasil kerajinan tikar itu.
Tim menyempatkan diri melihat dari dekat lokasi Lapter di Desa Tanjung Ori yang sedang dibangun. Lokasi Makam Panjang dan Danau Kastoba juga sempat dikunjungi. Untuk dapat mencapai Kastoba, tim harus berjalan kaki selama 2 jam menembus dataran rendah dan tinggi berhutan. Danau Kastoba dikelilingi hutan cagar alam, keindahannya layak menjadi icon wisata Pulau Bawean, the most exciting lake I have ever seen.

Monday, 12 May 2008

AWAS KAU BAWEAN !!!!!!!!!!!

Media Bawean, 13 Mei 2008

Oleh : IMAMWA
Suatu kali aku nonton tv siang-siang.
Kebetulan salah satu program yang muncul pertama kali adalah Trans 7.
Disitu ada acara BOLANG. Bocah Petualang.
Gileeeee Bener. Aku nggak nyangka ada sebuah pantai yang sangat tak terjamah sama sekali.
Benar-benar masih perawan.
Lantas aku misuh-misuh gak karuan.
Koq ya gak bilang-bilang ada pantai seindah itu.
Langitnya yang biru tak berpolutan, degradasi horizontal yang menghubungkan air laut dan langit nan nampak menawan.
Hingga aku sempat mengkhayal untuk "bercinta" semalaman.

Aku penasaran.
Hingga acara itu selesai aku menunggu credit titlenya.
Karena bagaimanapun juga ucapan terima kasih pada lokasi syuting selalu ada.
Aku menunggu dengan seksama.

Dan mataku terbelalak. tak karuan.......................
Tertulis "Terima kasih Kepada Dinas Pariwisata Pulau Bawean GRESIK........"

Jreng-jreng-jreng.................TAI asu,
Pulau seindah itu ternyata tak jauh dari tempat aku sekarang bermukim.......???
Pulau itu memang benar-benar Pulau PERAWAN.

AWAS KAU BAWEAN

Tuesday, 22 April 2008

ORANG BAWEAN DI SINGAPURA

Media Bawean, 20 April 2008

Oleh :
ari3f
Apakah itu “Boyan”?

Pada bulan Desember 2005, seorang kawan menawarkan roti “boyan” kepada saya. Alih-alih menikmatinya, saya jadi bertanya: apakah “Boyan” itu? Dijelaskannya bahwa “Boyan” adalah nama lain Bawean, sebuah pulau di dekat Surabaya. Bagaimana “Bawean” bisa menjadi “Boyan”? Hal ini mungkin disebabkan oleh absorbsi bahasa yang menyebabkan ketidakaslian bentuk kata yang umum terjadi pada jaman dulu (sebagian orang menyebutnya ‘korupsi kata’). Nama “bawean” sendiri diberikan oleh orang-orang Majapahit (kerajaan Hindu terbesar di Jawa) pada abad ke 13 yang berarti “matahari terbit”. Karena orang Bawean (atau Madura) mengganti huruf “w” menjadi “b” maka kadangkala Bawean ini disebut Bebien (“e” dibaca seperti ‘benar’).



Matahari terbenam di pulau Bawean

Ketika kecil, sewaktu saya masih tinggal di Probolinggo, sebuah kota 100 km di timur Surabaya, nenek saya kadang bercerita mengenai pulau-pulau di utara Jawa, seperti pulau Gili, kepulauan Karimun Jawa, pulau Bawean dan lainnya. Baginya, beberapa pulau ini adalah tempat ziarah ke makam-makam kyai (seorang pemuka muslim yang biasanya memiliki pesantren atau perguruan agama). Kyai yang terkenal di Bawean adalah almarhum Kyai Maulana Umar Mas’ud. Pada awal 80an itu, pulau-pulau kecil ini masih tak memiliki listrik yang memadai. Listrik hanya dinyalakan pada jam-jam tertentu dan di tempat tertentu, karena listrik dibangkitkan oleh mesin diesel.

Pulau Bawean masuk ke dalam kabupaten Gresik tahun 1974; sebelumnya, pulau Bawean masih bagian dari Surabaya. Letaknya 120 km di utara Gresik. Pulau ini dapat dicapai dengan menggunakan kapal express (ferry) selama 3 – 6 jam. Pulau Bawean sedikit lebih luas daripada pulau Singapura. Namun, penduduknya hanya berjumlah 65000. Pulau ini dibagi menjadi dua kecamatan (district), yaitu Sangkapura dan Tambak. Sangkapura terdiri dari 17 desa, yaitu Desa Sawahmulya, Kota Kusuma, Sungaiteluk, Patarselamat, Gunungteguh, Sungairujing, Baliktetus, Daun, Kebunteluk Dalam, Sidogedung Batu, Lebak, Pudakittimur, Pudakitbarat, Komalasa, Suwari dan Deka-Tagung. Sedangkan, Kecamatan Tambak meliputi 14 desa, yaitu Desa Tambak, Telukjati, Dedawang (Dhedhebeng), Gelam, Sokaoneng, Sukalila, Kalompang Ghubuk, Pakalongan, Tanjunguri, Grejek, Paromaan, Diponggo, Kepuhteluk dan Kepuhlegundi.

Bahasa Bawean

Seorang kawan dekat di Singapura kebetulan keturunan Bawean, dan ayahnya pernah memiliki band yang tersohor di tahun 1950-60an, namanya “La Obe”. Suatu hari saya ingin tahu apakah bahasa Bawean ini lebih mirip bahasa Jawa, bahasa Madura, atau campuran keduanya. Saya bertanya dalam bahasa Madura, dan ayahnya membalas dalam bahasa Bawean. Ternyata bahasa Bawean ini mirip sekali dengan bahasa Madura! Tingkat kemiripannya barangkali lebih tinggi dibanding Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia. Diceritakannya bahwa orang-orang Bawean yang datang ke Singapura dulunya berpencaharian sebagai ahli agama, guru silat dan pedagang “ilmu”. Menurut sejarah, memang benar bahwa kesenian yang paling menonjol di Bawean adalah kesenian pencak silat. Hingga kini, kesenian ini masih dilestarikan.

Merantau

Secara historis, mayoritas masyarakat Bawean adalah nelayan. Dari pekerjaan ini, jiwa mereka secara praktis adalah perantau, yang berhari-hari berlayar, kemudian pulang sambil membawa uang hasil penjualan ikan. Jiwa merantau dan berdagang ini menjadi turun-temurun dan menentukan garis hidup keturunan mereka juga. Setiap lelaki di pulau Bawean dirasa “wajib” untuk merantau, meski mereka telah menikah.

Orang Bawean di Singapura

Dalam artikel yang cukup komprehensif, The Baweanese (Boyanese), yang ditulis oleh Nor Afidah Abd Rahman dan Marsita Omar, sensus penduduk pertama kali mencatat adanya orang Bawean tahun 1849. Antara tahun 1901 – 1911, populasi orang Bawean di Singapura makin meningkat. Hal ini disebabkan oleh pajak yang terlampau tinggi yang dikenakan Belanda kepada inlander (penduduk asli) di Hindia Belanda (Indonesia sekarang). Di tahun-tahun itu, dicatat bahwa ada dua perusahaan transportasi yang melayani migrasi penduduk dari Bawean ke Singapura, yaitu Dutch Koninklijke Paketvaart Maatschappij (Belanda) dan Heap Eng Moh Shipping Company (Singapura). Populasi orang Bawean makin meningkat ketika pendudukan Jepang antara tahun 1942 – 1945 karena penjajahan ini menyebabkan kelaparan dan kemiskinan yang parah. Setelah 1945, arus masuk imigran diperketat di Singapura dan Malaysia. Sebagian orang Bawean berbelok ke Tanjung Pinang dan Riau.

Ketika Inggris membangun pacuan kuda tahun 1842, mereka menyewa orang-orang Bawean sebagai pekerja konstruksi untuk membangun Race Course lama, atau Turf City masa kini. Karena berbakat melatih kuda, orang Bawean akhirnya dipekerjakan sebagai pelatih kuda pacuan. Sebagian dari mereka tetap bekerja sebagai pelayar (seamen). Namun ada pula yang bekerja sebagai sopir untuk tuans dan mems, perawat kebun, pegawai pelabuhan dan sopir bullock-cart.

Antara tahun 1840an hingga 1950an, orang Bawean banyak yang bermukim di Kampong Boyan (kini bernama Kampong Kapor). Mereka membangun pondok (ponthuk, dalam bahasa Bawean) sebuah rumah yang digunakan untuk bersosialisasi dan tempat menampung pendatang Bawean yang baru. Komunitas ini dipimpin oleh Pak Lurah. Secara literal, Pak Lurah berarti kepala kampung atau kepala desa (the chief of the village). Istilah ini sekarang masih dipakai secara luas di Indonesia.

Banyak dari masyarakat Bawean di Singapura akhirnya menikah dengan etnis lain seperti Melayu, Jawa, Bugis dan lainnya. Peleburan ini menyebabkan identitas keturunan mereka secara praktis disebut “Melayu”. Namun, ada juga yang masih menggunakan garis etnis ayah, sehingga tetap beretnis “Boyan”. Seperti halnya keturunan Jawa di Singapura, sedikit sekali generasi muda Boyan yang menguasai bahasa Bawean, atau Madura. Sebagian dari mereka cukup mengenal beberapa kata, atau mengerti sedikit beberapa kalimat. Hal ini cukup wajar, mengingat bahasa Bawean tidak dipakai sehari-hari di sini.

Generasi tua keturunan Bawean di Singapura kadang masih mengunjungi sanak saudara di pulau Bawean. Namun, beberapa waktu lalu saya menemukan sebuah artikel pribadi yang ditulis oleh generasi muda keturunan Bawean. Ia ingin sekali ke Bawean, meski hanya sekali seumur hidupnya. Sama halnya dengan bahasa, jika kultur Bawean ini mirip dengan Madura, maka setiap saudara itu adalah saudara dekat. Sehingga perlakuan mereka terhadap saudaranya (meski hubungannya jauh sekalipun) sangat-sangat akrab. Ini ciri khas orang Madura yang juga saya amati di pulau Jawa.

***

Disarikan dari berbagai sumber:

[1] http://www.bawean.info

[2] http://pulaubawean.blogspot.com/

[3] http://media-bawean.blogspot.com/

[4] http://www.thingsasian.com/stories-photos/1280

[5] http://en.wikipedia.org/wiki/Bawean

[6] http://infopedia.nl.sg/articles/SIP_1069_2007-06-20.html

Tuesday, 15 April 2008

BERLAYAR KE BAWEAN

Media Bawean, 16 April 2008


ROMPON NELAYAN

Alat kayu ini adalah FADs = Fish Attracting Device. Artinya, alat pengumpan ikan atau rompon. Mereka mengikat sekumpulan bambu yang berfungsi sebagai sauh, yangg dimasukkan ke dalam air sedalam 600 kaki. Maka dari unit-unit itu akan terhasil karang tiruan. Lalu, nelayan akan berlayar ke arah unit-unit itu untuk menangkap ikan.


JUKONG BERLAYAR

Salah satu Jukong nelayan itu keluar waktu sore, sebelum hari mulai gelap





JUKONG E PAONGKEH








WARUNG MAKAN

Waktu makan siang, apa menunya? Mei Goreng + Ayam





Dapur








ANAK MAU NGAJI

3 laki2 muslim berhenti dan bergurau dengan kami





ANAK KECIL PEREMPUAN
Anak kecil (perempuan) itu sangat pemalu. Terlihat di belakang masjid ada 4 corong suara, diletakkan di posisi itu agar bunyinya tersebar ke semua arah. Ini adalah salah satu dari 4 masjid yg terletak di kampung ini. Semuanya berkumandang pada waktu yang sama!!!


Sistem Pengairan Setempat (lokal)







PARABOLA BAWEAN

orang ini adalah saudagar/pedagang laut , dan merupakan saudagar yg berjaya. Sebetulnya, semua kejiranan di kawasan ini rata-ratanya kaya, liat aja satelit2 itu .
www.sailingstardust.com

Monday, 14 April 2008

KERLINGAN PULAU BAWEAN

Media Bawean, 14 April 2008
Oleh :Ade

Ada yang menyeret hatiku ketika ombak yang berbuih kecil di antam kapal cepat Bahari Expres. Laut yang biru tenang tak menghabiskan jangkauan retinaku yang lelah, Pulau Bawean masih menjadi tanda sebuah misteri yang belum terjelaskan.

Tawaran seorang kawan yang menjadi ketua LP Marif Bawean tidak aku sia-siakan. Meninggalkan pekerjaan untuk sementara demi menghabiskan kehausanku atas penasaran terhadap pulau Bawean. Orang biasa bilang Bawean sebagai pulau putri karena sebagian besar penduduknya perempuan. Setidaknya aku bisa main mata dengan gadis di sana..haha…(Sori honey..just kidd).

Bayanganku pulau Bawean mungkin agak primitive, setidaknya karena jarang sekali aku mendapatkan referensi tentang keberadaannya. Satu-satunya tokoh yang aku kenal adalah “Pemain Porno Dari Senayan” Yahya Zaini yang beradu mesra dengan Maria Eva. Tapi durasi yang terlalu pendek menjadi kurang mempunyai nilai Filosofis dan entertainment dalam film tersebut.

Sudahlah…lupakan Yahya Zaini dan Mbak Eva (panggilan akrabku untuk Maria Eva). Sebab kapal cepat yang aku tumpangi telah merapat di pelabuhan Sangkapura, Satu dari dua Kecamatan di Pulau Bawean.

Tiba-tiba segalanya takjub…hamparan pantai yang luar biasa jernih dengan ikan-ikan yang lincah menyundul ke permukaan. Beberapa pulau kecil nampak di sekitar pulau Bawean. Pemandangan seindah ini pernah aku liat saat di Lombok, aku serasa jatuh cinta pada Bawean. Pulau yang cantik…dan tidak kalah gesitnya pandanganku beralih pada gadis2 yang baru datang dari Singapura dan Malaysia.

Hampir 80 % penduduk Bawean tinggal di Singapura dan Malaysia, 95% mempunyai keluarga di Malaysia dan Singapura. Cukup beralasan jika berbagai produk HP yang dipegang masyarakat sebagian seri N73 dan HP canggih lainnya. HPku yang berseri 8210 seperti barang rongsokan saja.

Setelah beberapa saat menikmati pelabuhan, seorang pemuda tanggung menjemputku, sementara kawanku yang ketua Maarif mengikuti rapat di PCNU. Kawan baruku ini memang dipersiapkan untuk menemani aku disini, setidaknya kami sama-sama muda, gemar cari kenalan cewek dan yang pasti punya selera untuk menikmati acara yang fun.

Saya dan Cumi (panggilan kawanku itu) harus menaiki sepeda motor sejauh 20 Km menuju Kecamatan Tambak. Tepatnya di Pondok pesantren Mambaul Fallah, aku ingin memberikan materi tentang jurnalistik dan beberapa keterampilan menulis kepada siswa di sana, juga diskusi dengan para guru terkait pengembangan kurikulum.

Menjelang Ashar kami sampai pada kompleks Sekolah dan pesantren terpadu Mambaul Fallah. Tempatnya agak tersembunyi, namun Gedung dan fasilitasnya membuat geleng-geleng kepala. Puluhan Unit computer terbaru berjejer di ruang laboratorium IT, ruang Bahasa yang sangat lengkap, fasilitas kamera handycam, laptop, dan kamera digital, bahkan punya bengkel otomotif yang berdampingan dengan bengkel elektronik. Sistem belajar lima hari kerja, hari sabtu untuk kegiatan out Door dan Student Day. Benar-benar terobosan yang mencengangkan.

Kami datang disambut siswa-siswa yang terbagi dalam beberapa kelompok diskusi. Adayang sedang belajar bersama, ada yang sekedar ngerumpi kecil, adapoula yang sedang menyelesaikan makalah karya ilmiah. Beberapa siswi puteri saling berbisik, mungkin aneh melihat penampilanku yang bercelana jin, jaket hitam, dan sepatu gunung dari kulit. Aku menyapanya, mereka heboh dengan menggunakan bahasa Bawean yang sebagian besar di serap dari bahasa madura.

Aku disambut di rumah ketua Suriyah NU Bawean, sekaligus salah satu pemilikYayasan Mambaul Fallah. Acara pertama adalah ramah-tamah, diusul makan besar dengan tema sea food. Sekali lagi aku terkesima, hidangan didepan mataku adalah lobster sebesar kaki anak usia 5 tahun, kalau di jawa harganya bisa mencapai ratusan ribu atau lebih. Kepiting raksasa sebesar piring, dan ikan tuna muda. Yang paling istimewa adalah sambalnya, sambal hanya terdiri dari cabe, garam, dan jeruk nipis, tapi sedapnya tiada tara. Oh..Bondan Winarno..maknyusmu harus mampir disini.

Pak Azis, demikian aku menyapa tuan rumah, adalah seorang tokoh yang paling disegani di pulau Bawean, dia juga menjabat sebagai anggota DPR di Gresik. Aku banyak sharing tentang politik, sosial, pendidikan, dan planning untuk Mambaul Fallah kedepan. Salah satu kendala terbesar di sini adalah kekurangan jumlah guru.dan rendahnya adopsi teknologi oleh para guru.

Setelah banyak ngobrol, aku menemani siswa-siswi menonton film di ruang Laboratorium Mereka antusias sekali berdiskusi, dan bersemangat dengan tanggapanku. Dahsyat..aku merasa benar-benar terpanggil untuk mereka. Mereka punya cita-cita membuat majalah dan membuat film. Seketika itu juga aku membuat rencana dengan mereka. Merencanakan pelatihan jurnalistik, praktek membuat majalah, dan dasar-dasar film. Sementara untuk melatih para guru dan ustadz aku alihkan menjadi malam hari. Aku ingin empat hariku disini benar-benar optimal.

Aku kerja seperti kesetanan, bangun pagi lalu ikut jamaah subuh dan olahraga, memberi materi jurnalistik, sorenya melatih membuat film di pantai, malam hari berdiskusi dengan para guru, melatih belajar internet dan pola pendidikan yang demokratis.

Malam hari siswa-siswi selalu mengajak bakar ikan, aku terpaksa memenuhi ajakannya. Setelah rapat aku temani mereka ke pantai, mencari ikan dan kepiting, lalu membakar ikan, mengikuti mereka menggosip tentang guru, tentang sekolah, tentang pacaran mereka..haha..aku serasa kembali SMU.

Hari terakhir mereka mengajakku melihat bencana longsor di desa Chandi, empat puluh rumah tertimbun tanah, jembatan ambrol, sawah rusak, tapi syukurlah tak ada korban jiwa. Aku sempat ngobrol dengan penduduk setempat, para sisa menerjemahkan untukku. Aku jadi termenung sesaat…melihat langit, dan rasa syukurku bergolak, setidaknya aku tidak pernah merasa kekurangan.

Terlalu banyak kenangan, meski singkat...sekedar empat hari. Tapi Bawean telah membuatku jatuh hati…, terenyuh..ketika temen2 siswa mngantarku ke pelabuhan. Beberapa siswi menangis…semoga rasa kehilangan mereka karena aku telah berusaha memberikan wawasan yang bermanfaat bagi mereka.

Hampir satu jam aku merenung diatas kapal..melihat laut..dan pulau Bawean yang tak lagi kelihatan…………………..
http://adeegoist.blogs.friendster.com/

Friday, 4 April 2008

LONG ROAD TO BAWEAN

Media Bawean, 4 April 2008
Dua kali saya datang ke Bawean. Dua kali itu saya terpesona akan keindahan alamnya, juga warganya yang bersahaja. Dua kali itu memberikan dorongan untuk saya bisa mengunjungiya hingga berkali-kali lagi. Pulau kecil yang berada kurang lebih 80 mil ke arah utara Kabupaten Gresik ini memiliki luas 194,11 kilometer persegi. Terbagi atas dua kecamatan, Kecamatan Sangkapura disebelah selatan dan Kecamatan Tambak dibagian utaranya.

Petualangan ke Bawean sudah dimulai bahkan ketika kita baru dalam perjalanan laut dari dermaga Gresik. Selama perjalanan 3 jam dengan kapal cepat perut serasa dikocok oleh guncangan ombak yang sedikit membuat tubuh terhuyung. Ini masih untung. Pada kunjungan saya yang pertama, waktu itu belum ada kapal cepat. Jadi saya harus berusaha menahan mabuk laut dengan berebah di matras-matras tipis hasil rebutan dengan penumpang lain, selama kurang lebih 8 jam!

Namun rasa pening itu seketika terbayar lunas begitu kita mendarat di pelabuhan Sangkapura. Pandangan kita disuguhkan pada barisan bebukitan yang membentuk gradasi, yang semakin dekat semakin nampak menghijau hamparannya. Di balik bukit bukit itu telah bersembunyi keunikan dan keelokan yang siap menghenyakkan rasa kagum kita dengan keindahannya, begitu kita menghampirinya.

Dan marilah memulai petualangan mengeksplorasi pulau ini. Diawali dari Danau Kastoba, yang merupakan salah satu keindahan alam dan tujuan wisata utama di Bawean. Saking populernya danau ini, dianggap belum afdol kalau datang ke Bawean belum mengunjungi danau ini. Berada di Desa Peromahan, danau ini berjarak sekitar 5 kilometer ke arah timur dari pusat Kecamatan Tambak.

Menuju danau, selama perjalanan mata kita disegarkan oleh lebatnya hijau pohon. Udara segar turut pula terhirup. Untuk yang hobi trekking, akan menyukai jalanan menanjak sekitar 30 derajat ini. Yang suka jalan santai pun akan terbuai dengan suasana alami yang ada. Ditengah hijaunya dedaunan dari pohon-pohon raksasa yang telah berusia ratusan tahun, terlihat serta rumah-rumah dibalik bukit seberang yg menggerombol menjadi sebuah perkampungan kecil. Sungguh pemandangan alam yang luar biasa. membuat perjalanan kaki sekitar 30 menitan itu tidak terasa melelahkan. Hingga kita sampai di tanjakan terakhir, dimana kesejukan air telaga yang tenang telah menanti.

Tiba di danau, ada juga pantangan yang tidak boleh dilanggar. Jangan mengambil bebatuan yang ada di sekitar danau, karena diyakini setiap benda ada penunggunya. Ini pula yang menyebabkan warga membiarkan saja pepohonan yang roboh hingga masuk ke perairan di pinggir danau. Namun tidak mengapa, robohan pohon yang sudah menahun dibiarkan itu malah menambah keunikan instalasi alam di danau ini. Keunikan lain yang ada di danau ini adalah warna danau yang sering kali berubah. Dari hijau di musim penghujan, hingga menjadi kuning kemilau seperti berminyak di saat kemarau tiba. Warna airnya juga bisa berubah jadi merah kalau ada wanita yang pada masa haid mandi di danau ini. (Anton)
http://galeri-imaji.blogspot.com/

Wednesday, 26 March 2008

BERLAYAR KE BAWEAN

Media Bawean, 16 April 2008


ROMPON NELAYAN

Alat kayu ini adalah FADs = Fish Attracting Device. Artinya, alat pengumpan ikan atau rompon. Mereka mengikat sekumpulan bambu yang berfungsi sebagai sauh, yangg dimasukkan ke dalam air sedalam 600 kaki. Maka dari unit-unit itu akan terhasil karang tiruan. Lalu, nelayan akan berlayar ke arah unit-unit itu untuk menangkap ikan.


JUKONG BERLAYAR

Salah satu Jukong nelayan itu keluar waktu sore, sebelum hari mulai gelap





JUKONG E PAONGKEH








WARUNG MAKAN

Waktu makan siang, apa menunya? Mei Goreng + Ayam





Dapur








ANAK MAU NGAJI

3 laki2 muslim berhenti dan bergurau dengan kami





ANAK KECIL PEREMPUAN
Anak kecil (perempuan) itu sangat pemalu. Terlihat di belakang masjid ada 4 corong suara, diletakkan di posisi itu agar bunyinya tersebar ke semua arah. Ini adalah salah satu dari 4 masjid yg terletak di kampung ini. Semuanya berkumandang pada waktu yang sama!!!


Sistem Pengairan Setempat (lokal)







PARABOLA BAWEAN

orang ini adalah saudagar/pedagang laut , dan merupakan saudagar yg berjaya. Sebetulnya, semua kejiranan di kawasan ini rata-ratanya kaya, liat aja satelit2 itu .
www.sailingstardust.com

Wednesday, 5 March 2008

LOBSTER RAKSASA BAWEAN

Media Bawean

Kata wong ndeso, ikan ini dikatakan Udang...tapi buat penikmat makanan, yang ini namanya Lobster. Tapi ukurane yang guede, maka orang Bawean tepatnya di pulau Putri yang ngasih diberi nama Mbo'e Lobster.

Lobster yang kecil ae kalau di resto-resto di Surabaya harganya sekitar Rp 100-an ribu. Tapi kalau yang ini, dijualnya ke pengepul lobster Rp 500 - 600 ribu. Harga ini tergolong murah karena di Bawean. Sebab, kalau sudah masuk di Surabaya apalagi Jakarta, hargae ya bisa mencape Rp 800 ribuan dan sudah mateng.
Untunge, waktu saya ke Bawean nich makanan di kasih Gratis tis....

Soale orang-orang khan mengakui kalau Awak ni orang cakep...he..he..(jangan lupa, penghuni pulau putri para Janda, karena ditinggal suaminya jadi TKI di luar negeri)..

Nah, mumpung lagi..nggak usah nunggu lama-lama...Mak Nyusss! tubuh lobster uenak itu pindah ke mulutku dech....

Bagi yang mbuka Blog ini, selamat melihat aja..nti kapan-kapan tak ceritain lagi enaknya..lobster...

Sunday, 2 March 2008

TUGAS DI BAWEAN





KERJA DAN BERPETUALANG
DI PULAU BAWEAN
Oleh : Agus Irwanto
Jika saya akan pergi ke Pulau Bawean untuk suatu tugas, selalu saya dahului dengan mengadakan semacam ritual terlebih dahulu, sebelum saya berangkat. Ritual tersebut antara lain dengan mengumpulkan peralatan fotografi yang saya miliki. Maklum, rugi rasanya jika saya ke Bawean tidak membawa kamera. Karena tidak dapat mengabadikan berbagai momen yang sering terjadi secara tidak terduga selama kegiatan yang akan saya lakukan.
Seorang teman saya semasa kuliah dulu pernah bertanya kepada saya tentang Pulau Bawean ini. Menurut yang ia tahu dan dengar bahwa pulau ini sangat baik untuk hunting ( arti awamnya, jalan – jalan sambil ambil foto ). Masih menurutnya, pulau Bawean memiliki pemandangan yang indah mulai dari pantai – pantainya, perahu, hingga gunung – gunungnya. Dan dia sangat penasaran sekali untuk melakukan hunting di Bawean. Jika teman saya saja begitu penasaran untuk melakukan hunting di Bawean, mengapa harus saya sia –siakan jika ke Bawean tanpa saya lengkapi kegiatan saya dengan hunting? Rugikan.
Meskipun hingga saat ini saya belum menjelajah ke seluruh tempat di Pulau Bawean baik yang di dalam kawasan maupun diluar kawasan konservasi, tetapi dari yang saya lihat selama disana memang banyak sekali lokasi – lokasi yang baik untuk mengambil gambar – gambar pemandangan maupun kegiatan masyarakat setempat. Coba kita perhatikan pesisir pantai di sisi timur maupun barat yang memiliki pemandangan pantai yang cantik. Sekali – kali luangkan waktu kita ketika subuh dan sore untuk menanti sunset dan sunrise di pelabuhan lama yang letaknya dekat dengan kantor Sub Seksi Konservasi Wilayah P. Bawean. Sunset akan cantik sekali dengan melihat matahari tenggelam di balik Tanjung Alang – alang. Gugusan karang di Pulau Menuri sisi timur juga baik untuk diabadikan, kita dapat kesana ketika air laut surut, sehingga dengan mudahnya kita berjalan menyeberang. Dari pulau ini kita juga dapat melihat Pulau Noko dengan jelas, tetapi sebaiknya gunakan binokuler atau lensa zoom. Karena ketika sore hari banyak burung yang beristirahat di pulau tersebut. Tetapi jangan terlena, karena biasanya sekitar jam 2 siang air akan mulai pasang kembali. Karena keasyikan juga akhirnya saya terpaksa berbasah – basah ria untuk menyeberang kembali dari Menuri.
Jika kita mau bersusah payah sedikit, kita juga dapat mengabadikan pulau Gili tanpa menyeberang. Sebelum kita sampai di Suaka Margasatwa P. Bawean blok Alas Timur kita dapat menuju pantai, walau jalan agak curam, tetapi dengan sepeda motor patroli hal itu tentu akan dapat diatasi. Kita juga dapat mengabadikan hutan nipah yang cantik di pantai sisi timur hingga kita dapat tembus ke blok gunung Payung – payung. Di desa tempat kita menitipkan sepeda motor akan kita dapati sederetan durung (semacam lumbung) dalam jumlah cukup banyak dan tertata bagus yang mengingatkan saya pada lumbung suku Baduy di Banten. Dengan berjalan kaki sekitar 30 menit kita akan sampai pada sebuah tebing bernama Tampo yang indah, cocok sekali untuk panjat tebing. Pernah suatu pagi saya ke lokasi ini untuk mengambil foto bersama Pak Sigit, terlihat puncak tebing ini ada gua dan keluarlah seekor burung elang dan berputar – putar diatas tebing beberapa saat. Sayang sekali lensa zoom saya tidak menjangkaunya karena letaknya yang sangat tinggi.
Belum lagi pemandangan yang pantai yang eksotik jika dilihat dari blok Sungai Terus dan tempat penangkaran Rusa Bawean milik pak Sudirman. Juga telaga Kastoba, air terjun Kuduk – kuduk, daerah Kolpo – kolpo yang unik. Dan saya yakin masih banyak lokasi indah yang belum sempat saya “jamah” di Bawean.
Kejadian tidak terduga juga sering kita jumpai pada saat berpatroli. Seperti berjumpa dengan satwa liar yang biasanya jika kita mencarinya malah tidak berjumpa, tetapi jika tidak berniat mencarinya malah nongol di depan kita. Pernah saat patroli di blok Sungai Terus, perjalanan kita di hadang oleh ular yang melintang di tengah jalan. Atau berjumpa dengan segerombolan kera abu – abu di blok Kumalasa. Dan juga ketika hampir kemalaman melintas di sekitar Kuduk – kuduk kita berjumpa dengan burung elang dan kalong yang silih berganti terbang di atas kita. Atau menemukan jebakan – jebakan untuk menangkap satwa yang dipasang penduduk di sekitar aliran air atau sungai kecil. Juga ketika berpatroli pada bulan Januari, rasanya hutan penuh dengan warna – warni bunga yang sedang bersemi. Belum lagi trubus – trubus dari pelbagai jenis tumbuhan turut memperindah warna hutan pada bulan itu. Hal – hal indah seperti ini sejak awal tidak pernah kita rencanakan.

Thursday, 28 February 2008

RINDU BAWEAN

Rindu Bawean

N a m a : Wendri
Kelahiran : Lampung, 13 Oktober 1964
Pendidikan : S2
Jabatan : Kasubag Tata Pemerintahan Adwil Jakarta Pusat
KETIKA mengawali karirnya sebagai pegawai negeri lima belas tahun lalu, Wendri sama sekali tidak menyangka bakal ditempatkan di Jawa Timur. Wendri tidak pernah ke Surabaya. Sanak saudara pun ia tak punya. ‘'Banyak kenangan di Surabaya. Terlalu indah untuk dilupakan,'' ujarnya.
Diterima bekerja di lingkungan Departemen Dalam Negeri pada tahun 1992, Wendri ditempatkan di Inspektorat Wilayah Jawa Timur. Kendala pertama yang dihadapi Wendri adalah faktor bahasa. Ia sempat merasa kesulitan berkomunikasi dengan sesama rekannya di kantor gubernur maupun dalam pergaulan di lingkungan tempat tinggalnya. Sebab semua orang bercakap-cakap dalam bahasa Jawa. Namun kesulitan itu membawa hikmah baginya. ‘'Dalam beberapa bulan saya sudah bisa bahasa Jawa,'' katanya.
Tidak lama di Surabaya, Wendri dipindah ke Gresik. Selama di Kota Santri ini, anak sulung dari tujuh bersaudara putra pasangan Akip Abdullah dan Dauminis ini sering ditugaskan ke Pulau Bawean. Ia menggambarkan Bawean sebagai pulau yang aman dengan penduduk yang sangat ramah. ‘'Kalau kita bertamu ke rumah warga, kita pasti diajak makan,'' tutur Wendri. Ajakan makan itu sulit ditolak karena yang mengajak bisa tersinggung.
Menurut Wendri, ia selalu merindukan Bawean. Selain warganya yang ramah, makanan di Bawean cocok dengan seleranya yang menyukai ikan laut.
Menikahi Vonny Januar pada tahun 1998, Wendri pindah ke Jakarta. Ia sebenarnya masih betah di Gresik, namun Vonny ternyata tidak bisa tinggal jauh dari orangtua. Apalagi Vonny juga tidak punya sanak keluarga di Gresik.
Kini Wendri menjabat sebagai Kasi Tata Pemerintahan di Bagian Aministrasi Wilayah Jakarta Pusat. Tugasnya anataralain mengkoordinasikan Pendatapan Asli Daerah (PAD) khususnya Peningkatan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Koordinasi di bidang Kependudukan, Pertanahan dan Ketentraman dan Ketertiban. (syahran rasuni)