Showing posts with label BAWEAN DALAM TULISAN. Show all posts
Showing posts with label BAWEAN DALAM TULISAN. Show all posts

Sunday, 4 May 2008

BAWEAN MEMBACA

Media Bawean, 5 Mei 2008

GAGASAN
Oleh : Bahruddin, SH.MH.

Orang yang berfikir besar, membicarakan idea-idea. Orang yang berfikir sedang membicarakan masa lalu. Orang yang berfikir kerdil, membicarakan orang lain. Kemudian masuk kelompok manakah orang Bawean itu?

Perlu penelitian lebih lanjut untuk menentukannya. Media yang paling dominan di Bawean adalah : dhurung-dhurung, tempat cucian dipinbggir sungai, gardu, pamaoran dan dipasar-pasar. Tempat seperti itu biasanya disebut pasamoan. Nah, dipasamoan itulah biasanya terjadi pembicaraan, dan yang dibicarakan umunya orang lain.

Mengapa jarang mengambil topik lain seperti bidang pendidikan, perekonomian dan topik lain yang mengarah kepada memperluas wawasan dan meningkatkan pengetahuan?

Hal ini dapat dimaklumi karena masyarakat Bawean adalah 'masyarakat kuping' bukan masyarakat pembaca. Artinya jika ada pengajian telinganya dibuka lebar-lebar (walau belum tentu masuk). Tapi kalau disuruh membaca sangat sulit sekali. Padahal ayat yang pertama turun adalah iqra', bacalah. Kita memang dianjurkan untuk membaca.

Banyak alasan mengapa orang Bawean tidak suka membaca. Antara lain tidak adanya bahan bacaan yang bisa dibaca. Nah, dalam kaitan ini, Yayasan Darul Fikri telah membuat terobosan dengan meluncurkan 'produk' BAWEAN MEMBACA.

Setiap bulan Yayasan Darul Fikri menerbitkan media dengan nama BAWEAN MEMBACA Isinya antara lain : daftar buku baru, resensi, profil penyumbang buku dan lain-lain. Bagi yang berminat untuk meminjam, cukup dengan mengirim sms pada no. hp yang disediakan untuk itu, dengan menulis nama dan alamat peminjam, dan buku yang akan dipinjam. Kemudian petugas Yayasan akan menghantar buku tersebut ke alamat peminjam dan pada waktunya petugas itu juga yang akan mengambilnya jika waktu peminjaman sudah habis.

Program ini sudah berlangsung sekitar 5 bulan. Mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat. Selanjutnya kabarnya Yayasan akan meluncurkan program lain yang akan mendukung BAWEAN MEMBACA, namanya WAKAF BUKU. Semoga program ini berhasil dalam rangka menciptakan masyarakat pembaca, bukan lagi masyarakat kuping. Sehingga warga Bawean akan menjadi orang yang berfikir besar.

(Bahruddin Temorrojing Sangkapura Bawean)

Sunday, 27 April 2008

JAM WAJIB BELAJAR

Media Bawean, 28 April 2008

Oleh Baharuddin, SH.

Nail kelas satu SD. Dari sejak bangun tidur sampai menjelang tidur lagi, tak henti hentinya dia memperagakan gerakan tangan dan kaki disertai suara berdesis dari mulutnya. Bahkan diwaktu shalatpun tangannya selalu digerak-gerakkan walau mulutnya membaca do'a-do'a shalat.

Nail memang punya idola. Dia tergila-gila dengan film kartu,. Nah, tokoh dalam film kartun itu idolanya. Sering gurunya memberia catatan pada lembar jawaban ulangan nail : Bunda, Nail tidak konsentrasi dalam mengerjakan soal. Dalam ulangan nanda selalu menggambar tulis gurunya sembari memberikan panah pada gambar tersebut.

melarang menghidupkan TV kecuali hari libur. Dia selalu mencuri-curi menghidupkan TV. TV anak adalah favoritnya. Walaupaun gurunya selalu bercerita dan mengidolakan para Nabi, sahabat dan pejuang islam lainnya, Nail tetap saja lebih bangga pada tokoh kartun.

Ternyata banyak sekali para orang tua yang mengeluh tantang perilaku anaknya. Hasilnya sudah bisa ditebak, di kelas Nail berada diperingkat bawah.

Sunday, 20 April 2008

DALANG PENGRUSAKAN HUTAN DI PULAU BAWEAN

Media Bawean, 21 April 2008

GASASAN : Oleh Baharuddin, SH.MH.
Bulan pebruari yang lalu, Bawean 'panen' musibah. Tanah longsor meluluh lantakkan kampung Candi di Kecamatan Tambak dan kampung Laok Sabe di Kecamatan Sangkapura Bawean. Kedua kampung itu berdekatan. Terletak disekitar danau Kastoba.

Kampung Laok Sabe lenyap bak ditelan bumi. Tidak ada korban jiwa. Musibah tersebut terjadi pada siag hari. Tapi tidak kurang dari 100 rumah rusak berat. Separuhnya tertimbun tanah. Puluhan sapi terkubur.

Pertanyaan. "Kenapa musibah itu terjadi begitu tiba-tiba? Pendapat yang beredar, danau kastoba murka. Tetapi kejadian itu sangat bisa dinalar. Hutan didaerah tersebut habis dibabat lalu menjadi gundul dan hal ini dapat dilihat dengan mata telanjang. Sebagaimana pada manusia, pohon tak ubahnya tulang dan urat.

Luas hutan di Pulau Bawean 20.969 ha tediri dari hutan lindung 4.550 ha. cagar alam 750 ha, hutan rakyat 10.419 ha terdiri dari tegalan dan perkarangan. Sisanya 5.000 ha adalah sawah. Semula hutan lindung -seluas 3.800 ha setelah dikurangi cagar alam yang 750 ha- adalah termasuk hutan produksi, yang kemudian ditetapkan sebagai hutan marga satwa. Penetapan tersebut terjadi pada tahun 1979. Tetapi realisasinya baru dilaksanakan tahun 1992.

Nah, dalam tenggang waktu 12 tahun tersebut telah dilakukan penebangan secara sporadis dan membabi buta oleh sejumlah oknum. Masyarakat Bawean bukannya tidak protes, tetapi yang dihadapi adalah suatu 'barisan' yang sudah sistemik. Dalam suatu acara penyuluhan di pendopo desa Daun yang diadakan oleh dinas Lingkungan Hidup Propinsi Jawa Timur pada tahun 1990an. Kemas Arfa, warga Sidogedungbatu mengatakan bahwa : "Jika pemerintah serius untuk melestarikan hutan, mari kita tangkap bersama. Pencurinya ada didalam ruangan ini,". Pertemuan tersebut juga dihadiri pejabat Muspika dan Kepala Kehutanan Bawean. Usulan Kemas Arfa tersebut tidak mendapat apresiasi.

Kini hutan produksi yang pohon jatinya telah habis ditebang itu sudah menjadi hutan suaka marga satwa sudah berada dibawah instansi konservasi sumberdaya alam. Tapi penebangan masih tetap beralanjut pada hutan rakyat. Bukan hanya pada kayu jati, tapi pada kayu apa saja, setiap hari puluhan mesin potong meraung-raung tanpa henti.

Hal itu terjadi karena Perda yang membolehkan kayu rimba ditebang asalkan bayar retribusi. Jadi Pemkab Gresik termasuk dalang pengrusakan hutan di Bawean. Pertanyaan mengemuka, mana yang lebih besar antara PAD (Pendapatan asli Daerah ) dan nilai kerugian yang ditimbulkan?.

Saya punya gagasan, agar Pemkab melarang penebangan kayu -kecuali kayu jati- untuk dijual ke luar Pulau Bawean. Tanpa itu 10 tahun kedepan Bawean akan benar-benar menjadi gurun pasir dan panen musibah akan sering terjadi.

(Bahruddin : Temurrojing Bawean)

Sunday, 13 April 2008

KRISIS LISTRIK DI BAWEAN

Media Bawean, 14 April 2008

GAGASAN
Oleh : Baharuddin SH, MH.

Di depan kongres AKLI bulan Pebruari yang lalu, Wapres Yusuf Kalla menyatakan bahwa pemerintah tidak mungkin membangun PLTD dengan tenaga minyak.

Dalam suatu pertemuan sejumlah tokoh masyarakat Bawean dan Wabup Gresik dengan Manajer PLN Jawa Timur dapat disimpulkan bahwa PLN di Bawean pada hakekatnya sudah angkat tangan tinggal angkat kaki. Beliau meminta kepada Wabup agar Pemkab Gresik segera mencari investor.

Dalam pertemuan dengan kepala desa di kantor kecamatan Sangkapura bulan maret yang lalu kepala PLN Bawean mengatakan bahwa dari 8 mesin yang ada, hanya 3 mesin yang berfungsi, sedang yang lima rusak. kenyataannya listrik di Bawean hanya hidup 17 jam. itupun masih dilakukan pemadaman secara bergiliran. Dalam situasi seperti ini PLN Bawean masih menganggung kerugian 13 Miliyar pertahun.

Pemerintah Kabupaten Gresik bukan tidak berbuat, Pemkab sudah mencoba mendatangkan AAE sebagai investor. Masyarakat menolak dengan alasan terlalu mahal. Krisis listrik sudah hampir sama dengan krisis pangan. Rakyat yang sengsara. Dari jumlah 25 ribu KK hanya sekitar 10 ribu yang masih terjangkau oleh listrik. Sekitar 9 ribu KK merupakan daftar tunggu, dan yang terakhir initermasuk jumlah 6 ribu KK. Sudah tidak mungkin lagi terlayani PLN.

Sehubungan dengan hal tersebut. Warga Bawean harus bangkit. Bukan saatnya menuntut PLN untuk memenuhi harapan warga. Dan jangan lagi menuntut hak yang sama dengan warga masyarakat lainnya di Indonesia dalam hal mendapat aliran listrik.

Apalagi menurut Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Lukman Edy, jika menggunakan PLTD dengan kemampuan yang ada pada pemerintah. Diperlukan waktu 40 tahun untuk bisa merata.

ADA banyak cara untuk mengatasi krisis listrik di Bawean. Antara lain : pertama, warga Bawean harus urunan membangun pembangkit sendiri dengan tenaga batubara. Jika dana yang diperlukan 50 Miliyar, berarti setiap KK dikenakan 2 juta rupiah.

Tapi masyarakat Bawean perlu bukti terlebih dahulu. Maka pemkab seyogyanya memback up dalam masalah ini dengan cara 'menjual' rencana ini kepada dunia perbankkan.

Selanjutanya warga akan mengangsur sesuai dengan ketentuan bank. Jika hal ini dapat terwujud, maka harga perKwh dapat ditekan dan keuntungan dapat kembali ke masyarakat dalam bentuk peningkatan sarana dan prasarana umum.

Kedua, jika alternatif pertama tidak mungkin dilaksanakan, maka krisis listrik ini dapat dilakukan secara parsial, yakni memanfaatkan potensi yang ada di masing-masing desa, seperti tenaga angin, matahari, PLTA, bahkan dengan kotoran sapi. Terhadap itu semua diperlukan peran LSM yang benar-benar berpihak pada rakyat.

(Baharuddin, SH. MH. : Temorrojing Bawean)

Monday, 7 April 2008

GAGASAN UJIAN NASIONAL

Media Bawean, 7 April 2008
UJIAN NASIONAL DIJAGA POLISI
Oleh : Baharuddin, SH. MH*

Sudah banyak komentar tentang pelaksanaan Ujian Nasional (UAN), baik melalui media cetak maupun elektronik. Sejak UAN dilaksanakan, opini terbelah menjadi dua: pro dan kontra dengan argumentasi masing-masing.

Tapi diantara dua pendapat tersebut hanya berkutat pada eksistensi UAN, grade yang terlalu tinggi, kualitas sekolah kota dan desa tidak merata, dan penambahan mata pelajaranpun di UAN kan.

Tidak ada yang mempermasalahkan bagaimana sistem pengawasan dilakukan. Sudah tidak rahasiah lagi, bahwa sejumlah sekolah/madrasah menjelang pelaksanaan UAN membuat "tim sukses" yang bertugas untuk "membisiki" anak didiknya agar dapat mengerjakan soal yang benar.

Ujung-ujungnya agar siswa lulus seratus peresen dengan demikan kepala sekolah dan para guru dianggap berhasil mengajar. Jika demikian apa bedanya dengan rezim ebtanas dulu?

Pada saat itu semua sekolah berlomba untuk meloloskan anak didiknya seratus peresan, sebab jika ada satu yang tidak lulus, sang kepala sekolah akan disemprot oleh Kakandekab, Kakandekab akan disemprot oleh Kakanwil, dan Kakanwil akan disemperot oleh Menteri.

Jadi korupsi nilai tersebut sudah menjadi sistematis. Maka jadilah EBTANAS sebagai degelan yang datang setiap tahun.

Melihat pelaksanaan UAN selama ini, tak ubahnya dengan degelan saja walau tidak semua sekolah berbuat begitu.

Akibantnya, anak didik sama sekali tidak kompetitif dan secara nasional SDM kita dibawah standard. Jika demikian halnya, bagaimana negara kita akan maju? Bukankah kemajuan suatu bangsa tidak diukur dengan kayanya sumber daya alam, tetapi sejauh mana kualitas sumber daya manusianya. Sementara pabrik SDM ada di lembaga pendidikan.

Untuk mensukseskan pelaksanaan UAN, pemerintah telah melakukan sejumlah langkah termasuk menitipkan soal ujian di kantor polisi setempat dan menempatkan anggota polisi di luar lokal ujian pada saat UAN.

Tapi itu saja tidak cukup sebab oknum guru cukup kreatif dalam menyiasati semua rambu-rambu yang ada , termasuk rambu pengawas silang.

Saya Punya Gagasan :

Bagaimana jika pada saat UAN berlangsung semua guru cuti (libur) saja, kemudian pengawas UAN diserahkan kepada bapak-bapak polisi. Tentu saja dengan berpakaian celana gelap, hem lengan panjang dan berdasi. Gagah, dijamin aman dan bersih.

*Mantan Kepala MTs. Umma Bawean

Monday, 11 February 2008

HUTAN SAHABAT MANUSIA

Negeri kita yang telah terpuruk...
Penuh segala bencana yang mungkin tak ada habisnya...
yakinkah kau akan kembali berjaya...
berkumandang dikancah internasional dan mendapat nama di
internasional

Hutan adalah sahabat manusia yang paling akrab. Hutan yang lebat dan hijau, laksana perpustakaan yang tidak habis-habisnya kita baca.
Bahkan kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dengan hutan. Kita bisa membaca dan menulis tidak terlepas dari jasa baik hutan karena pensil (potlot) dibuat dari kayu. Kapal dan perahu tertambat kaku karena pelabuhan umumnya dibuat dari kayu ulin yang bertahun-tahun tumbuh di hutan.
Bahkan sampai keliang lahatpun manusia masih tetap memerlukan jasa baik kayu, ketika kita terbujur dalam keranda mayatpun terbuat dari kayu. Sungguh manusia tidak bisa dipisahkan dengan hutan.
Kemudian hutan disakiti, ditebang, di ekspoitasi, hanya untuk kepentingan sesaat. Ketika penebangan tersebut tidak lagi sesuai dengan reboisasi, lalu hutan marah. Timbullah banjir yang kemudian meluluh lantahkan perumahan penduduk, memporak porandakan sistem irigasi, memutuskan jembatan, tanah longsor, korban harta benda dan jiwa yang tak terkira.
Lalu manusia menulis dalam buku catatan hariannya :
Hutan dalah makhluk yang sulit ditaklukkan. Tidak. Hutan adalah sahabat manusia. Telah terjadi kerusakan di bumi dan laut, karena perbuatan tangan-tangan manusia' kata Alllah SWT.
------------------------------------------------------------------------------------
Tulisan : Bahruddin,SH.MH ( Ketua Yayasan Pasir Putih)

Tuesday, 5 February 2008

Ketika Gelombang jadi Tsunami

Cerpen: Titie Said
Sumber: Republika, Edisi 02/06/2005
Bulan penuh. Durachman memandang dengan perasaan kagum. Tuhan telah menciptakan bulan dan berada di tengah langit. Apalagi bila dipandang dari laut, pancaran bulan semakin cantik. Durachman mematikan motor perahunya, merebahkan diri dan merasakan kenikmatan yang luar biasa ketika perahunya digoyang gelombang. Bulan yang cantik, secantik Zulaiha yang dipaggilnya Leka.
Leka seperti melayang dari langit dan turun ke perahunya. Ia duduk di ujung perahu dan Durachman di ujung lainnya. Dipandanginya Leka. Ia mengenakan kutang berwarna hijau daun yang kontras dengan kulitnya yang kuning. "Leka.. Leka.. berhari-hari aku di tengah laut," suara Durachman keras. Tapi teriakan itu ditelan angin. "Leka, sudah lama kau tak menemuiku." Ucap Durachman dengan suara rindu. Leka hanya tersenyum manis. Senyum itu mampu membuat hati Durachman tenteram.
"Aku kangen, Leka." Bisik Durachman seperti ia berbisik kepada angin yang semakin kencang."Kangen atau sedih, Cak Durach?'' balas Leka dengan logat Surabaya."Sedih. Aku sedih karena Liki melawanku. Aku susah karena Ija tak mau menuruti kata bapaknya.""Kalau Cak Durach sedih pasti naik perahu dan berlayar ke tengah laut,'' kata Leka. Senyumnya tetap lembut dan pandangan matanya memancarkan cinta. Itulah yang istimewa dari Leka. Selalu ada cinta terpancar di matanya.
Durachman mengangguk. Ia sedih karena anak pertamanya -- Maliki -- tidak mau tinggal di Pulau Bawean. Ia marah pada Liki yang berani membantahnya. Maliki justru kerja di luar negeri! Ia membanggakan Singapura atau keset kaki orang asing! Durachman marah ketika Maliki dengan bangga membawa dolar dan menceritakan apa kerjanya di Singapura. Kerja di dapur seperti perempuan, membantu koki yang di sebut chef di restoran! Pasti restoran Cina! Pasti dia mengiris daging babi.
Liki banggga jadi asisten koki. Itu bukan pekerjaan lelaki Bawean! Mengapa tak mau menjadi nelayan dan membantu ayahnya sendiri? Menjadi nelayan adalah pekerjaan terhormat walau melarat tetapi jadi tuan di perahu sendiri. Mengapa meniggalkan Desa Kadudampit di Pulau Bawean sekadar menjadi koki di negeri asing?
"Kang, anak kita sudah besar... punya kehendak sendiri, punya pilihan sendiri,'' suara Leka lembut memasuki telinga suaminya. "Sejak kecil aku yang mengasuh mereka. Aku tak mau kawin lagi sejak kau tinggal pergi, Leka. Tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan kedudukanmu. Aku menyanyangi Liki dan Ija, aku besarkan mereka. harapanku kalau aku tua aku bisa selamanya dengan mereka. Aku kesepian, Leka.'' Durachman membuang nafasnya. Bulan di atas disapu awan. Perahu kembali bergoyang karena gelombang datang. Semakin lama semakin kecang.
Bagi Durachman, kerja nelayan lebih terhormat dibandingkan pelayan. Nelayan bebas dan menjadi tuan bagi dirinya sendiri. Durachman menyanyi lagu yang pernah diajarkan kepada anaknya ketika sekolah dasar: Nenek moyangku orang pelaut.... ''Kalau tak ada nelayan, siapa yang mengambil ikan di laut kita? Apa nelayan asing yang punya kapal besar yang mengeruk harta kita? Kerja nelayan adalah kerja lelaki terhormat, penjelajah yang gagah, pelaut yang berani menghadapi maut." Durachman menggerutu.
"Anak kita tak suka jadi nelayan, sebab ia tahu hasil melaut tak cukup. Mengapa anak lelaki kita suka memasak? Karena ia senang memasak untuk menyambut ayahnya pulang dari laut. Maliki mengambil tugasku dan setia memasak untuk ayahnya. Bukankah Cak Durach yang mengajari memasak?''
"Tapi memasak untuk diri sendiri, bukan jadi pembantu koki...." Durachman berhenti bicara, ia merasakan rabaan angin yan aneh. "Pulanglah, Cak Durach. Maliki dan Azizah menunggu ayahnya. Cak harus mendampingi ketika anak perempuan kita menikah,'' amat pelan suara Leka. Antara ada dan tiada.
''Tidak. Tidak. Ija harus menikah dengan orang Bawean.'' Durachman berteriak mengatasi suara angin yang tiba-tiba bergemuruh. "Aku mewarisi kerja nelayan dari orang tuaku. Mereka pelaut dan aku juga pelaut. Tapi anak-anak tak mau seperti aku. Ija dilamar nelayan di Bawean, tetapi ia menolak. Bahkan, berani lari ke Surabaya. Ia memilih lelaki Lombok! Bukan nelayan, bukan pelaut. Siapa yang akan mewarisi perahu yang dibuat sendiri oleh bapaknya? Apa aku tak boleh sedih?!''
"Mereka punya hak untuk memilih yang terbaik bagi dirinya. Cak memaksa Ija kawin dengan pria pilihan Cak, yang sudah dua kali kawin cerai. Cak ingat ketika semua keluarga di Kadudampit menentang ketika Cak Durach mengawini aku? Cak melawannya, rawe-rawe rantas malang-malang putung. Kekokohan hati Cak diwarisi anak kita."
"Apa yang mereka anggap baik? Jadi pelayan!" Teriak Durachman karena suara angin berubah dari badai. "Maliki belajar jadi pelayan karena dalam hidup ini memang kita saling melayani. Lurah, camat, bupati, bahkan presiden, melayani rakyat. Biarlah maliki menjadi pelayan rakyat. Pulanglah, Cak. Temui anak-anak kita yang gelisah menunggu ayahnya yang tak pulang dari laut. Pulang... Pulang...." Suara Leka terhenti.
Durachman memandang Leka. Ia ingat bertemu Leka di Kota Sidoarjo. Hidung mancung karena ayahnya masih keturunan Arab, bulu matanya lentik dan menjadi gadis paling cantik. Leka mau diboyong ke Kadudampit di Bawean. Maliki lahir dan disusul kelahiran Azizah yang jaraknya 13 bulan. Pendarahan yang hebat terjadi dan Leka meninggal. "Leka... Leka... " panggil Durachman dengan suara takut.
"Apa, Cak?"
"Aku kira kau pergi lagi, lagi, lagi...."
"Kan aku sudah berjanji. Cak Durach harus mengikhlaskan kepergianku.
Aku hitung lebih seminggu Cak menyusuri Laut Hindia.
Pulanglah. Bawean dan anak-anak menunggu, Cak," Bisik Leka.
Angin dari mulutnya mengggelitik di telinga Durachman. Ada rasa kangen untuk bersatu dengan istri. Bertahun-tahun ia menahan nafsu lelaki karena cinta dan setia pada Leka. Kini di tengah laut, diayun gelombang besar, ia sepeti memeluk istrinya. Ia ingin melakukan hasrat lelaki. Tetapi ketika tangan Durachman dijulurkan ingin menggapai istrinya, tangannya hanya menembuh udara. Istrinya tetap di ujung gelombang sambil tersenyum, memberi semangat berjuang melawan maut di laut.
"Leka... Leka...." Durachman berteriak sampai pagi. Leka tak lagi muncul. Durachman baru menyadari bahwa malam telah berganti. Tiba-tiba angin laut mati. Begitu tenang bahkan terasa amat sunyi. Ada perasaan tak enak di hati. Burung warna putih terbang tergesa-gesa menuju daratan. Aneh. Alam mengisyaratkan ada sesuatu yang akan terjadi.
Cepat Durachman menghidupkan mesin perahunya. Durachman memeluk pinggir perahu ketika gempa terjadi. Perahunya terbalik. Untung masih bisa diselamatkan. Tiba-tiba seperti ada magnit yang kuat menarik perahunya dan membantingnya di dasar laut. Durachman menahan nafas. Perahu buatan ayahnya, yang setia menemaninya 60 yahun, tiba-tiba lepas dari tangannya.
Dalam hitungan detik ia dilambbungkan oleh gelombang setinggi gunung. Susul menyusul gelombang demi gelombang. Selama hidup jadi nelayan tak pernah ia mengalami peristiwa seperti ini. Gelombang semakin bergemuruh seakan dunia ini runtuh, menghempas, membanting, melambung, menggulung. Tangan Durachman bertaut seakan ia memeluk Leka.
Durachman ingin berterian minta tolong. Mulutnya terbuka, tetapi gelombang besar menggulungnya. "Leka.. Allah.. Allah..," ucapnya. Tetapi suaranya tak terdengar. Seperti bahan, rasanya bumi terbelah.
"Allahu Akbar,... Allahu Akbar. Biarkan aku mati menyusul Leka tapi ingin tetap menyebut namaMu. Allahu Akbar... Allahu Akbar...!"
Durachman tak ingat berapa ribu kali hatinya berteriak menyebut nama Allah. Belum pernah dalam hidupnya dibawa gelombang setinggi gunung. gelombang paduan antara gelombang, badai, taifun, prahara, menjadi satu dan begitu dahsyat menghantam badannya.
Entah berapa banyak air keruh itu masuk dalam perutnya. Badannya yang liat itu menghantam pucuk kelapa. Ia menggapai. Untung ia bisa menahan nafas karena biasa menyelam. Badai tak lagi mengghantamnya. Gelombang berasal dari laut dan pasti kembali ke laut.
Tengah hari Durachman baru berani membuka mata. Dari atas puncak pohon kelapa ia memandang ke bawah. Tak ada rumah. Semuanya rata dengan lumpur. Ia memejamkan mata lagi ketika menyaksikan begitu banyak mayat di bawah pohon kelapa yang menyelamatkannya.
"Alhamdulillah... Alhamdulillah... Aku hidup... Aku hidup. Aku bisa bertemu Liki dan Ija.''Ia ingat pernah menasihati Liki sebagai lelaki tak boleh cengeng dan tak pantas menangis. Tetapi kini ia sendiri yang menangis. Ia ingin memeluk Liki dan Ija dan mengatakan jadi apapun mereka asal tetap menjadi orang muslim dan taat pada perintah Allah yang menjadikan hidup ini. Allah juga yang menjadikan petaka ini.
Durachman mendengar suara tangis yang amat pelan. Ia memejamkan matanya. Masya Allah, di sebatang pohon kelapa ini ada lima orang yang selamat. Batang kelapa bisa rubuh. Ia harus menolong dan menurunkan mereka. Tapi batang kelapa amat licin dan ia melepas baju yang sudah robek untuk membersihkan batang kelapa dari limpur. Satu persatu ia tolong mereka menjejak tanah kembali. Dua anak, ibu tua dan lelaki renta. Allah menetapkan kehendakNya. Anak dan orangtua selamat, sedangkan di sekitar mereka ada mayat lelaki yang gagah dan muda.
Mereka terduduk di bawah pohon yang menyelamatkan mereka. "Jak wo Meulaboh?" Durachman mendengar suara gemetar berulang-ulang. Perempuan tua yang ditolongnya bertanya dalam bahasa yang asing di telinganya. Durachman mengira orang itu bertanya namanya."Ya, saya Cak Durach dari Bawean." Kini ia yang heran karena perempuan itu melongo lalu merangkulnya erat. Dua anak kecil memegang kakinya. Ah, anak itu mengingatkan pada Maliki dan Azizah yang suka memeluknya.
Sampai matahari condong di langit, perempuan tua dan dua anak itu tak mau lepas memegang badan dan kakinya. Tak hentinya mereka menangis. Durachman tak mengerti bahasa penduduk yang satu persatu datang. Ia diberi tahu bahwa ia ada di Meulaboh. Bagaimana mungkin ia berada di Meulaboh? Dari laut pasti ia digulung oleh gelombang yang maha dahsyat.
Tak ada air, tak ada makanan, yang tersisa hanya kesedihan yang merobek jiwa. Berapa hari ini berada di Meulaboh? Ah, menghitung hari pun ia tak kuasa, walau sejak kecil ia terbiasa menghitung berapa ikan yang ditangkap ayahnya. Yang dipunyainya hari ini hanya badan yang luka dan tenaga yang lemah. Tetapi ia masih mampu membantu penduduk mengangkat mayat, menguburkannya.
Bahasa tak lagi menjadi penghalang, sebab hati mereka telah menyatu dalam luka dan luka yang dalam. Bukankah ada bahasa agama dan bahasa perasaan yang menjadikan mereka satu? Mereka tidak tahu dimana Pulau Bawean yang dibanggakan Durachman, sama dengan dirinya tak pernah tahu bahwa gempa di laut bisa merubah gelombang jadi tsunami, walau sepanjang hidupnya dihabiskan di laut.
Tangan Durachman gemetar ketika menerima bantuan. Sepanjang hidup ia tak pernah meminta-minta karena ia lelaki dari Bawean. Tapi kini ia harus lari memburu helikopter yang menjatuhkan kardus berisi makanan. Ia harus berjuang memperoleh makanan dan air bersih untuk ibu-ibu tua dan anak-anak. Untuk pertama kali bibirnya menguak senyum ketika mampu membagi makanan itu kepada orang-orang lain yang tak kuat lari. Ada kebahagianan kecil tapi besar maknanya ketika ia bisa memberi.***